Sektor Ritel Indonesia Tumbuh 6,5 Persen Selama Ramadan 2026

Indeks Penjualan Riil tumbuh 6,5 persen pada Februari 2026 berkat momentum Ramadan, namun analis peringatkan risiko penurunan konsumsi pasca-Idul Fitri.

Indeks Penjualan Riil (IPR) Indonesia tercatat tumbuh sebesar 6,5 persen secara tahunan (YoY) pada Februari 2026 sebagai dampak dari peningkatan aktivitas belanja masyarakat menjelang Ramadan. Data tersebut menunjukkan penguatan sektor ritel domestik yang kini berada di level 232,7.

Dilansir dari Medcom, Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, mengonfirmasi bahwa konsumsi rumah tangga tetap bertahan di tengah dinamika ekonomi global. Secara bulanan, kinerja ritel mengalami rebound sebesar 4,1 persen (MoM) setelah periode kontraksi sebelumnya.

Peningkatan penjualan ini didorong oleh penguatan permintaan pada tiga segmen utama. Sektor makanan dan minuman, pakaian, serta suku cadang dan aksesori menjadi kontributor terbesar yang mencerminkan pola belanja musiman masyarakat Indonesia menjelang hari besar keagamaan.

Bank Indonesia memproyeksikan kenaikan konsumsi akan terus berlanjut hingga puncaknya pada perayaan Idul Fitri di Maret 2026. Dukungan kebijakan pemerintah dan pencairan tunjangan hari raya (THR) menjadi faktor kunci yang menjaga daya beli masyarakat dalam jangka pendek.

"Sebagian besar kenaikan ini bersifat sementara, didorong oleh pencairan tunjangan hari raya (THR), promosi ritel, serta lonjakan konsumsi musiman. Momentum ini berpotensi tidak berlanjut setelah periode perayaan berakhir," ujar Novani Karina Saputri, Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia.

Meskipun prospek jangka pendek terlihat positif, Indeks Ekspektasi Harga (PEI) untuk Mei 2026 terpantau naik mencapai 157,4. Angka ini memberikan sinyal adanya peningkatan risiko inflasi yang dapat memberikan tekanan pada daya beli masyarakat di masa mendatang.

Indikator kepercayaan konsumen ke depan masih berada di zona optimis dengan indeks 147,2 untuk tiga bulan ke depan dan 162,4 untuk enam bulan mendatang. Namun, normalisasi permintaan pasca-Idul Fitri diperkirakan akan membuat aktivitas ritel cenderung moderat atau melemah.

Faktor eksternal seperti volatilitas nilai tukar rupiah dan risiko geopolitik turut menjadi perhatian serius bagi pelaku pasar. Kebijakan likuiditas ketat dari Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas mata uang juga dinilai dapat menahan laju pertumbuhan konsumsi domestik pada kuartal berikutnya.

Recommended