Indeks Manufaktur Indonesia (PMI) mengalami penurunan signifikan pada bulan Maret 2026. Angka PMI tercatat anjlok ke level 50,1, jauh di bawah posisi Februari yang mencapai 53,8. Pelemahan ini menjadi yang terendah dalam delapan bulan terakhir, tepatnya sejak Juli 2025, seperti dilansir dari Detik Finance.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Perindustrian, Saleh Husin, mengidentifikasi beberapa faktor utama di balik kontraksi ini. Menurut Saleh, permintaan yang melemah, terutama penurunan pesanan ekspor baru, menjadi penyebab utama di tengah ketidakpastian global yang meningkat.
Selain itu, industri juga menghadapi tekanan biaya produksi yang naik akibat lonjakan harga energi. Gangguan pada rantai pasok global turut memperburuk kondisi, menghambat aktivitas sektor manufaktur. Saleh Husin menyebut kombinasi demand shock dan cost pressure ini memperlambat laju ekspansi industri secara signifikan.
Kondisi tersebut membuat aktivitas industri mendekati batas stagnasi, yakni di level 50. "Kombinasi demand shock dan cost pressure ini membuat laju ekspansi industri melambat signifikan, mendekati batas stagnasi (level 50)," kata Saleh Husin dalam keterangan tertulisnya, Rabu (1/4/2026).
Meskipun demikian, Saleh memprediksi PMI Manufaktur Indonesia masih berpotensi bertahan di zona ekspansi tipis di atas level 50. Namun, ia juga memberikan peringatan tegas mengenai kerentanan sektor ini terhadap tekanan eksternal yang terus membayangi.
Pelemahan pesanan ekspor, jelas Saleh, akan memberikan dampak langsung pada sektor padat karya. Hal ini dapat memicu penurunan utilisasi kapasitas produksi, tekanan pada margin keuntungan, serta potensi penyesuaian jumlah tenaga kerja. Oleh karena itu, arah pergerakan PMI ke depan sangat bergantung pada pemulihan permintaan global, stabilitas harga energi, dan efektivitas kebijakan pemerintah dalam menjaga daya saing industri.
Analis dari S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, juga menambahkan perspektifnya mengenai penurunan PMI ini. Menurutnya, melemahnya permintaan dan gangguan pasokan bahan baku menjadi pemicu utama, yang sebagian besar dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah.
Data survei menunjukkan bahwa volume output dan pesanan baru telah kembali mengalami kontraksi setelah sebelumnya sempat menunjukkan pertumbuhan. "Menurut laporan anggota panel, salah satu faktor utama di balik penurunan pada akhir triwulan pertama adalah pecahnya perang di Timur Tengah," ujar Bhatti, menambahkan konteks geopolitik sebagai pendorong utama pelemahan ekonomi global.