5 Pola Pikir UMKM Perempuan Sukses Kembangkan Usaha

Sejumlah UMKM perempuan berhasil mengembangkan usaha mereka meski menghadapi keterbatasan. Lima pola pikir penting ini menjadi kunci naik kelas.

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional, menyumbang lebih dari 60 persen Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, mayoritas pelaku usaha berada di skala mikro, terutama UMKM perempuan yang sering terkendala akses pembiayaan, pasar, hingga literasi digital.

Meskipun demikian, banyak kisah sukses yang lahir dari berbagai keterbatasan. Melalui program pemberdayaan, sejumlah pelaku UMKM perempuan menunjukkan bahwa pola pikir yang tepat dapat mendorong usaha kecil berkembang pesat. Dilansir dari Medcom, terdapat lima pola pikir esensial yang dapat membantu UMKM perempuan untuk naik kelas.

Kemampuan beradaptasi adalah kunci utama dalam dunia usaha yang dinamis, terutama di era digital. Teknologi kini bukan lagi pelengkap, melainkan bagian integral dalam menjalankan bisnis. Digitalisasi terbukti mampu meningkatkan omzet secara signifikan.

Pemanfaatan media sosial, platform e-commerce, hingga kecerdasan buatan (AI) dapat membantu pelaku usaha menjangkau pasar lebih luas dan meningkatkan efisiensi. Aisyah Nur Asri, juara SisBerdaya 2025 melalui Mad Quinn Beauty, mencontohkan langkah sederhana seperti merapikan tampilan media sosial dan membuat halaman link terpadu. “Sebagai usaha kecil, kita harus pintar mencari tools yang mempermudah bisnis. Misalnya sesimpel merapikan medsos, mengatur landing page seperti Linktree supaya mudah diakses calon customer, dan rajin ngonten serta memanfaatkan AI untuk memperkaya ide pemasaran,” tutur Aisyah.

Terus Belajar dan Terbuka pada Wawasan Baru

Proses pembelajaran tidak berhenti setelah usaha dimulai, justru di sinilah fase pengembangan sejati. Mengikuti pelatihan, lokakarya, atau program pemberdayaan membuka perspektif baru dalam pengelolaan bisnis.

Selain ilmu, pelaku usaha juga dapat mengakses mentor dan komunitas yang membantu melihat peluang secara strategis. Inne Viryani, pemilik Riasafood, mengalami peningkatan penjualan hingga 130 persen dan produksi 14 persen setelah mengikuti program SisBerdaya tahun 2023, berkat wawasan bisnis baru yang diperolehnya.

Membangun Relasi dan Membuka Peluang

Jejaring merupakan aset penting dalam perjalanan bisnis. Bergabung dengan komunitas, mengikuti bazar, atau berpartisipasi dalam program pelatihan dapat membuka pintu kolaborasi dan memperluas pasar. Relasi sering kali menciptakan peluang baru, baik dalam bentuk kerja sama, distribusi produk, maupun dukungan moral antar pelaku usaha.

Eka Shandy Andi Ishak, pemilik diTUTA dari Sulawesi dan juara SisBerdaya 2023, merasakan manfaat ini. Ia aktif di komunitas SisBerdaya dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, yang memacunya untuk terus mengembangkan usaha kerajinan tangannya.

Fokus pada Dampak Sosial, Bukan Sekadar Profit

UMKM tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga dampak positif yang dapat diciptakan. Banyak usaha kecil yang tumbuh dengan mengusung nilai sosial, budaya, dan lingkungan. Ini bisa berupa pemberdayaan masyarakat sekitar, pembukaan lapangan kerja bagi kelompok rentan, atau mengangkat kearifan lokal sebagai identitas produk. Praktik ramah lingkungan seperti pemanfaatan limbah produksi juga kian banyak diterapkan.

Pendekatan ini tidak hanya memperkuat merek, tetapi juga menciptakan nilai jangka panjang bagi bisnis. Contohnya Hj. Nurlaela, juara SisBerdaya 2025 dengan brand Cantika Sabbena, yang mempromosikan warisan budaya Bugis melalui kain khas Soppeng. “Saat ini, 90 persen karyawan saya perempuan karena saya ingin menciptakan ruang untuk sesama wanita bisa bertumbuh. Dalam pembuatan kain pun, Cantika Sabbena memakai limbah kain. Jadi kalau ada niat, kita bisa menggabungkan pelestarian budaya, pemberdayaan perempuan, dan sustainability,” kata Nurlaela.

Konsisten dan Pantang Menyerah

Konsistensi adalah elemen krusial di balik setiap usaha yang berhasil. Banyak pelaku UMKM memulai dari kondisi terbatas namun tetap bertahan dan terus berkembang. Ketekunan, kemauan untuk belajar, dan kemampuan beradaptasi membedakan usaha yang stagnan dengan yang terus bertumbuh.

Rani Mei Lestari, penyandang paraplegia dan juara 3 DisBerdaya 2025, mendirikan DISPROMAN Laundry. Layanan cuci kiloan berkualitas tinggi ini juga membuka peluang bagi perempuan disabilitas lainnya untuk dilatih dan diberdayakan, menunjukkan bagaimana setiap tindakan dapat mengangkat martabat.

Recommended