Antrean panjang penumpang terlihat di ruang keberangkatan kereta jarak jauh Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, yang hendak melakukan perjalanan mudik. Mereka membawa berbagai jenis barang bawaan.
Di tengah kepadatan tersebut, para porter berseragam kuning menawarkan bantuan untuk membawakan barang bawaan penumpang hingga ke dalam kereta. Musim libur Lebaran 2026 menjadi kesempatan bagi mereka untuk mencari nafkah.
Irwansyah, seorang porter, mengungkapkan bahwa selama musim libur Lebaran, ia dapat membantu sekitar 10-20 penumpang setiap harinya, tergantung pada kondisi fisiknya. Jumlah ini meningkat signifikan dibandingkan hari-hari biasa di mana ia hanya membantu maksimal 5 penumpang.
Untuk menggunakan jasa porter, penumpang dapat memesan secara online melalui aplikasi E-Porter. Tarif standar yang telah ditetapkan dalam aplikasi adalah Rp 38.000. Tarif ini menjadi acuan bagi para porter dalam menawarkan jasa mereka.
"Makanya kalau penumpang bertanya berapa biaya porter, kita yang kasih tahu. Bu, Pak, Mas, Mbak, ini order aplikasi kita Rp 38.000," ujar Irwansyah di Stasiun Pasar Senen, Selasa (17/3/2026).
Meskipun sudah ada tarif resmi, Irwansyah mengakui bahwa sering kali penumpang menawar biaya jasa, terutama jika barang bawaan mereka tidak terlalu banyak.
"Kita minumnya Rp 30.000-35.000, boleh. Itu yang sudah dari mandor istilah, ketua shift kita kan jangan menjatuhkan harga angkut jasa kita," ucap Irwansyah.
Namun, banyak juga penumpang, terutama yang berusia lanjut, belum mengetahui bahwa jasa porter itu berbayar. Dalam situasi seperti ini, Irwansyah seringkali menerima bayaran seikhlasnya.
"Banyak juga yang nggak tahu. Kita bisa maklumin, apalagi orang tua kalau saya pribadi ya, ada penumpang saya kasih Rp 13.000 ibu-ibu, ya sudah nggak apa-apa," terang Irwansyah.
Irwansyah mengaku ikhlas jika menemui situasi tersebut. Menurutnya, selalu ada penumpang lain yang berbaik hati memberikan uang lebih.
"Kalau ini sebetulnya nggak apa-apa, saya ikut membantu. Nanti-nanti ada lagi yang kasih lebih, Alhamdulillah," ucapnya.
Khamid, porter lainnya, menyampaikan hal serupa. Ia sering menemui penumpang yang meminta jasa porter tanpa mengetahui adanya tarif standar.
Kondisi ini biasanya terjadi ketika penumpang meminta jasa porter secara langsung, tanpa melalui aplikasi. Dalam hal ini, Khamid hanya bisa menerima berapapun yang diberikan.
"Ada yang offline gitu ya. Karena offline kasih ya kalau aplikasi kan Rp 38.000, kalau offline kadang ngasih Rp 30.000 atau seadanya, ya nggak apa-apa, kita terima saja," papar Khamid.
Selain itu, Khamid mengaku tidak banyak menemui kesulitan saat menjadi porter di Stasiun Pasar Senen. Apalagi, saat ini para porter juga dapat menggunakan troli untuk membantu membawa barang bawaan penumpang yang berat dan banyak.