Prediksi Harga Emas Besok Antam 14 Februari 2026: Peluang Rebound atau Lanjut Koreksi?

Pasar logam mulia dalam negeri sedang berada dalam fase krusial setelah mengalami guncangan cukup signifikan pada perdagangan akhir pekan. Investor dan masyarakat yang mengandalkan emas sebagai instrumen lindung nilai kini sedang menanti apakah tren koreksi ini akan berlanjut atau justru menjadi momentum untuk melakukan akumulasi beli di harga yang lebih rendah.

Penurunan tajam yang terjadi baru-baru ini telah menghapus sebagian keuntungan yang sempat dirasakan pemilik emas saat menyentuh level tertinggi sepanjang masa di akhir Januari lalu. Situasi global yang dinamis serta pergerakan indeks dolar AS menjadi faktor pendorong utama yang membuat harga emas domestik terus berfluktuasi secara agresif dalam beberapa hari terakhir.

Memasuki hari Sabtu, pergerakan harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) diprediksi masih akan dibayangi oleh sentimen teknis pasca terjun bebas dari level psikologisnya. Bagi Anda yang berencana melakukan transaksi, baik investasi jangka panjang maupun buyback, memahami titik support dan resistance menjadi kunci utama agar tidak terjebak dalam euforia pasar yang semu.

Analisis Proyeksi Harga Emas Antam Sabtu 14 Februari 2026

Berdasarkan data terkini, harga emas Antam pada Jumat (13/2/2026) mengalami penurunan drastis sebesar Rp 43.000, yang membawa harganya ke level Rp 2.904.000 per gram. Angka ini terpaut cukup jauh dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang masih bertengger di Rp 2.947.000 per gram.

Titik Support dan Resistance Menurut Pakar

Pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi, memberikan proyeksi bahwa pergerakan harga emas untuk perdagangan Sabtu, 14 Februari 2026, berpotensi masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah jika tekanan jual belum mereda.

“Apabila harga logam mulia emas Antam naik, resistance pertama berada di kisaran Rp 2.800.000 per gram dan resistance kedua di sekitar Rp 2.900.000 per gram,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta.

Sebaliknya, jika tren penurunan kembali berlanjut, Ibrahim memperingatkan adanya potensi harga emas batangan merosot ke level support pertama di Rp 2.725.000 per gram. Jika level tersebut tertembus, bukan tidak mungkin harga akan mengejar support kedua di posisi Rp 2.620.000 per gram.

Perbandingan dengan Rekor All Time High (ATH)

Penting untuk dicatat bahwa harga saat ini sudah terkoreksi cukup dalam dari rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) yang sempat dicapai pada 29 Januari 2026, yakni Rp 3.168.000 per gram. Penurunan ini menunjukkan bahwa pasar sedang melakukan penyesuaian besar setelah reli panjang di awal tahun.

Update Harga Buyback dan Aturan Pajak Terbaru

Kondisi kurang menguntungkan juga terlihat pada harga beli kembali atau buyback. Pada Jumat (13/2/2026), harga buyback anjlok Rp 53.000 menjadi Rp 2.688.000 per gram. Selisih (spread) yang melebar ini perlu diantisipasi oleh para investor yang berniat mencairkan asetnya dalam waktu dekat.

Ketentuan Pajak Transaksi Emas

Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 34/PMK.10/2017, setiap transaksi emas batangan di Antam tetap dikenakan potongan pajak:

  • Pajak Pembelian: Dikenakan PPh 22 sebesar 0,45% untuk pemegang NPWP dan 0,9% bagi non-NPWP.

  • Pajak Buyback: Untuk penjualan kembali di atas Rp 10 juta, dikenakan PPh 22 sebesar 1,5% bagi pemegang NPWP dan 3% bagi non-NPWP, yang langsung dipotong dari total nilai transaksi.

Daftar Harga Emas Antam Per Gram (Jumat, 13 Februari 2026)

Berikut adalah referensi harga pecahan emas batangan sebelum pajak sebagai dasar estimasi pergerakan di hari Sabtu:

Pecahan Emas Harga Dasar (Rp)
0,5 gram 1.502.000
1 gram 2.904.000
2 gram 5.748.000
5 gram 14.295.000
10 gram 28.535.000
50 gram 142.345.000
100 gram 284.612.000
1.000 gram 2.844.600.000

Strategi Investasi di Tengah Fluktuasi

Bagi investor pemula, penurunan harga yang signifikan seringkali dianggap sebagai “diskon” untuk menambah portofolio. Namun, secara fundamental, pergerakan emas sangat bergantung pada kebijakan suku bunga global dan kondisi geopolitik. Disarankan untuk menggunakan strategi dollar cost averaging (membeli secara bertahap) guna meminimalisir risiko volatilitas harga yang masih tinggi di kuartal pertama tahun 2026 ini.

Recommended