Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam industri aset kripto, khususnya untuk memprediksi pergerakan harga, semakin meluas. Walaupun menawarkan potensi, investor diingatkan untuk tetap waspada terhadap keterbatasan serta risiko yang ada.
CEO Upbit Indonesia, Resna Raniadi, menjelaskan bahwa AI dapat menjadi alat bantu yang berguna untuk menganalisis pasar kripto. Namun, AI tidak dapat menggantikan pemahaman mendasar tentang pasar serta pengambilan keputusan investasi yang bijak.
Kemampuan AI dalam mengolah data dengan cepat membantu investor mengenali pola atau tren yang mungkin sulit dilihat secara manual. Analisis tersebut meliputi data historis harga, volume transaksi, sentimen media sosial, dan berita global.
Upbit Indonesia menekankan bahwa investasi tidak boleh hanya didasarkan pada AI. Volatilitas pasar kripto dipengaruhi faktor eksternal seperti regulasi, ekonomi global, dan sentimen pasar. Akurasi prediksi harga oleh AI tidak dapat dijamin.
Investor dianjurkan untuk selalu melakukan riset mandiri, memahami profil risiko, dan menggunakan AI sebagai alat pendukung analisis, bukan penentu utama keputusan investasi. "AI sebaiknya digunakan sebagai alat pendukung dalam proses analisis, bukan sebagai penentu utama keputusan investasi," kata Resna.
Investasi yang bertanggung jawab mencakup penggunaan platform perdagangan yang terdaftar dan diawasi regulator, diversifikasi portofolio, serta penetapan batas risiko.
Upbit Indonesia, yang terdaftar di BAPPEBTI sejak 2019, terus berupaya meningkatkan literasi kripto melalui edukasi, agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi secara bijak dalam ekosistem aset digital.