Studi Baru Prediksi Alam Semesta Runtuh 33 Miliar Tahun Lagi

Penelitian terbaru menggunakan data energi gelap memprediksi alam semesta akan mengalami fenomena Big Crunch atau pengerutan besar dalam 33 miliar tahun.

Tim ilmuwan memprediksi alam semesta berpotensi berakhir dalam kurun waktu 33,3 miliar tahun ke depan melalui fenomena kosmik yang disebut sebagai Big Crunch atau Pengerutan Besar. Temuan yang dipublikasikan pada akhir April 2026 ini mematahkan asumsi lama bahwa alam semesta akan terus meluas hingga triliunan tahun.

Prediksi durasi usia kosmos yang jauh lebih singkat ini didasarkan pada analisis data terbaru mengenai energi gelap. Dilansir dari Detik iNET, skenario Big Crunch menggambarkan kondisi di mana ekspansi ruang angkasa berbalik arah dan menyebabkan seluruh materi runtuh kembali ke titik kepadatan ekstrem.

Data tersebut dikumpulkan melalui pemetaan ratusan juta galaksi menggunakan Dark Energy Survey (DES) dan Dark Energy Spectroscopic Instrument (DESI). Instrumen ini menunjukkan adanya perubahan pengaruh energi gelap yang selama ini dianggap sebagai konstanta statis dalam mendorong perluasan alam semesta.

Para peneliti menjalankan simulasi masa depan menggunakan model yang paling sesuai dengan hasil observasi lapangan. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa titik balik dari perluasan menuju penyusutan ruang-waktu akan terjadi dalam waktu dekat dalam skala waktu kosmik, yakni sekitar 33,3 miliar tahun dari sekarang.

"Selama 20 tahun terakhir, orang-orang percaya bahwa konstanta kosmologis bernilai positif dan alam semesta akan mengembang selamanya. Data terbaru tampaknya menunjukkan konstanta kosmologis bernilai negatif dan bahwa alam semesta akan berakhir dalam Big Crunch," kata Henry Tye, Profesor Emeritus Fisika di College of Arts and Sciences, Cornell University.

Penemuan ini menggeser paradigma lama yang meyakini alam semesta adalah ruang abadi yang akan terus membentang tanpa batas. Sebaliknya, model baru ini menunjukkan bahwa kosmos akan melakukan pergerakan "putar balik" yang membawa seluruh ruang kembali ke kondisi awal saat peristiwa Big Bang terjadi.

Meskipun bukti-bukti yang diajukan oleh para ilmuwan melalui simulasi komputer tersebut dinilai cukup meyakinkan, tim peneliti mengakui bahwa diperlukan lebih banyak data lanjutan. Kompleksitas kosmos menuntut pengujian model yang lebih ketat untuk memastikan apakah tren energi gelap tersebut akan tetap konsisten di masa mendatang.

Recommended