Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaktifkan kembali sektor swasta demi mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional melalui penempatan dana sebesar Rp200 triliun di perbankan. Langkah strategis di bawah instruksi Presiden Prabowo Subianto ini disampaikan dalam acara Jogja Financial Festival 2026 pada Jumat (22/5/2026).
Kebijakan penempatan dana ratusan triliun tersebut sengaja dilakukan untuk memaksa institusi perbankan menyalurkan likuiditas langsung ke tengah masyarakat. Strategi ini diambil setelah Purbaya mengidentifikasi adanya kendala besar dalam struktur perekonomian saat awal dirinya menjabat sebagai Menteri Keuangan, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
"Jadi yang banyak orang nggak ngerti adalah, langkah pemerintah ngapain sih? Langkah Pak Prabowo itu ngapain? Apa sibuk dengan BGN aja? Nggak. Pak Prabowo juga mengaktifkan private sector, sektor swasta," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Pemerintah juga melakukan koordinasi dengan otoritas moneter guna membatasi penyerapan uang oleh bank sentral. Langkah ini diimplementasikan agar perbankan tidak memarkir dana mereka dan lebih memilih melemparnya ke sektor riil dalam bentuk pinjaman.
"Saya diskusi dengan Bank Sentral juga, coba batasin uang yang diserap oleh bank sentral. Jadi, uangnya di perbankan dan dia terpaksa menyalurkan ke masyarakat. Kenapa? Kalau nggak dia harus bayar ke saya bunganya sekitar 3,8%. Rugi dia," papar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Intervensi kebijakan penempatan dana ini diklaim berhasil memberikan stimulus positif bagi pergerakan dunia usaha nasional. Penyaluran kredit yang dipaksakan berjalan tersebut langsung memicu tren pertumbuhan pada sektor nonpemerintah.
"Jadi dia harus menyalurkan kredit. Akibatnya, private sector juga tumbuh," jelas Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Di sisi lain, kebijakan menarik belanja negara ke depan berdampak pada posisi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sempat menyentuh angka 0,93 persen pada akhir Maret. Kendati demikian, kondisi keuangan negara dilaporkan mulai berbalik menguat pada bulan berikutnya dengan tingkat defisit yang mengecil ke level 0,64 persen.
"Tapi itu (APBN per Maret) karena kita belanjanya kita tarik ke depan. Triwulan kedua, sudah mulai membaik bulan April aja, data APBN kita membaik," imbuh Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.