Wakil Presiden, Global Sales, Telco Centre of Excellence & Head of APAC Telco Sales Red Hat, Ben Panic, menyampaikan bahwa modernisasi menjadi kebutuhan mendesak bagi industri telekomunikasi (telko) di Asia-Pasifik (APAC), khususnya Indonesia. Hal ini disampaikan berdasarkan pengamatannya di Mobile World Congress (MWC) 2026.
Menurut Panic, operator perlu menerapkan penawaran baru dengan cepat untuk menghasilkan pendapatan baru di pasar Indonesia yang sangat kompetitif. Modernisasi juga dapat menurunkan biaya operasional dengan mengurangi technical debt dari aplikasi dan perangkat keras lama.
Panic, yang memimpin tim ahli teknologi dan industri telko global di Red Hat, merangkum empat domain utama yang menjadi sorotan di MWC, yaitu: Horizontal Telco Cloud, Virtualisasi, AI (Kecerdasan Buatan), dan Sovereign Cloud.
Horizontal Telco Cloud menjadi topik yang banyak diperbincangkan. Panic menjelaskan bahwa ini merupakan pergeseran dari model vertikal tradisional, di mana operator terikat pada satu vendor untuk semua kebutuhan.
"Apa yang dikatakan oleh solusi horizontal adalah Anda dapat membawa perangkat keras dari pemasok mana pun yang Anda inginkan, jadi Dell, HPE, Supermicro, siapa pun itu," jelasnya.
"Anda kemudian dapat memilih perangkat lunak, sehingga aplikasi, Anda dapat memiliki inti 4G dari Ericsson dan Nokia, dapat membawa beberapa inti, yang melakukan dua hal. Satu hal, itu memberi redundansi dalam hal aplikasi… Kedua, jelas bisa memainkan vendor A dan vendor B dari perspektif harga, sehingga bisa menurunkan biaya operasional dengan cara itu, dan kemudian itu memberi fleksibilitas pilihan."
Panic menambahkan bahwa fleksibilitas platform terbuka sangat penting, terutama untuk memanfaatkan akselerator seperti GPU yang dibutuhkan AI. Ia juga menyebutkan bahwa tidak ada operator global yang kembali dari horizontal cloud ke vertical cloud setelah melakukan transisi.
Selain horizontal cloud, AI dan sovereign cloud juga mencuat. Saat ini, sebagian besar perusahaan telko fokus pada penggunaan internal AI, seperti otomatisasi, operasi jaringan berbantuan AI, dan peningkatan pengalaman pelanggan melalui chatbot.
Sementara itu, sovereign cloud menjadi perhatian utama di APAC dan EMEA, termasuk Indonesia. Hal ini didorong oleh fokus negara-negara untuk menjaga data di dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada hyperscaler publik yang berbasis di AS.
Perusahaan telko dinilai memiliki posisi yang baik untuk menyediakan layanan sovereign cloud karena infrastruktur, posisi regulasi, dan pengalaman operasional yang mereka miliki.
Panic mengakui bahwa pasar telko Indonesia secara historis mengadopsi solusi vertikal, tetapi tren horizontal cloud mulai berkembang. Ia menilai Indonesia memiliki peluang unik untuk memanfaatkan pelajaran dan blueprint dari pasar yang lebih matang seperti Jepang, Korea, dan India.
Dalam hal prioritas investasi, Panic menyarankan untuk mendahulukan modernisasi jaringan. "Jika ingin mendorong pendapatan dari AI di tahun-tahun mendatang, Anda harus memodernisasi jaringan terlebih dahulu dan membuatnya terbuka dan horizontal. Jika memiliki jaringan tertutup, Anda akan terkunci pada satu mitra, yang membatasi kemampuan Anda untuk berinovasi."
Proses modernisasi ini diperkirakan memakan waktu dua hingga tiga tahun dan sebagian besar akan mengikuti pendekatan migrasi, yaitu membangun platform baru di samping sistem lama. Jangka panjangnya, fokus besar bagi operator adalah bertransformasi dari telko menjadi techco (perusahaan teknologi), yang merupakan langkah besar menuju evolusi menjadi perusahaan yang didorong oleh AI sekitar tahun 2030.