Capcom, pengembang game kenamaan, secara resmi meluncurkan Resident Evil Requiem pada 27 Februari 2026, menandai kembalinya seri horor ikonis mereka. Game kesembilan dalam waralaba ini menawarkan perpaduan nuansa horor psikologis dan aksi yang eksplosif, serta berhasil menyajikan penutupan emosional yang telah lama dinanti oleh para penggemar setia, seperti dilansir dari Medcom.
Resident Evil Requiem terbukti sangat diminati di pasaran, mencapai penjualan fantastis sebanyak 5 juta kopi hanya dalam kurun waktu lima hari setelah perilisannya. Pencapaian ini menegaskan posisi Resident Evil sebagai raja tak terbantahkan di genre horor gaming.
Latar waktu Resident Evil Requiem mengambil tahun 2026, tepat tiga dekade pasca-insiden Raccoon City yang mengguncang dunia. Alur cerita utama berfokus pada Grace Ashcroft, seorang analis intelijen FBI yang kembali ke puing-puing kota mati tersebut. Misinya adalah menyelidiki penyebab kematian misterius ibunya, Alyssa Ashcroft, karakter penting dari seri Resident Evil Outbreak, yang terjadi delapan tahun silam di Hotel Wrenwood.
Di sana, Grace bertemu dengan Leon S. Kennedy, seorang veteran yang kini termakan usia dan mengidap Raccoon City Syndrome. Kondisi medis misterius ini, akibat paparan virus jangka panjang, memberi Leon dorongan untuk menyelesaikan misi terakhirnya. Melalui berbagai dokumen yang ditemukan, pemain akan mengungkap sisa-sisa ambisi Oswell E. Spencer dan upaya organisasi The Connections dalam mengeksploitasi penelitian lawas Umbrella.
Inti dari misteri ini adalah Elpis, yang pada awalnya diyakini sebagai senjata biologis pamungkas. Namun, Elpis terungkap sebagai vaksin universal yang berpotensi menghancurkan jejak infeksi Progenitor dan T-Virus. Narasi ini memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menggantung selama bertahun-tahun, menjadikannya salah satu alur cerita paling bermakna dalam sejarah Resident Evil.
Dua Protagonis dengan Gaya Bermain Berbeda
Salah satu aspek menarik dari Resident Evil Requiem adalah pengembangan dua protagonis utamanya. Grace Ashcroft digambarkan bukan sebagai prajurit super, melainkan seorang analis meja yang introvert dan rentan terhadap gangguan kecemasan. Karakterisasi ini tidak hanya tercermin dalam dialog, tetapi juga terintegrasi secara mekanis dalam permainan.
Ketika pertama kali memegang senjata, tangan Grace terlihat gemetar di layar, yang secara langsung memengaruhi stabilitas bidikan pemain. Peran suara oleh Angela Sant'Albano berhasil menghadirkan kedalaman emosional, membuat setiap jeritan dan napas pendek Grace terasa sangat nyata.
Di sisi lain, Leon S. Kennedy tampil sebagai sosok veteran berpengalaman yang telah menghadapi berbagai kengerian. Desain karakternya yang lebih tua menggambarkan kelelahan fisik dan mental, meskipun kemampuan bertarungnya jauh lebih brutal dibandingkan penampilannya di Resident Evil 4 Remake. Dinamika antara Grace yang rentan dan Leon yang tangguh menciptakan hubungan guru-murid yang menyentuh, menambah bobot emosional ketika Leon harus melindungi Grace dari ancaman tak terbayangkan.
Mekanisme Kampanye Ganda
Capcom mengimplementasikan struktur kampanye ganda yang bergantian antara Grace dan Leon, masing-masing dengan filosofi desain yang sangat berbeda. Saat bermain sebagai Grace, elemen survival horor klasik dihidupkan kembali. Sumber daya sangat terbatas, memaksa pemain menggunakan kecerdasan Grace dalam forensik.
Grace dapat mengumpulkan sampel darah musuh untuk dianalisis di laboratorium, guna menciptakan item unik seperti Hemolytic Injector. Ini adalah satu-satunya alat yang mampu menghentikan mutasi zombie menjadi Blister Head yang mematikan. Aspek stealth menjadi krusial; Grace dapat berjongkok, bersembunyi di bawah meja, dan menggunakan botol kaca untuk mengalihkan perhatian musuh. Ancaman utama Grace adalah The Girl (Shadow Ghost), musuh stalker yang hanya bisa diusir dengan cahaya terang, menciptakan ketegangan.
Sebaliknya, saat bermain sebagai Leon, Resident Evil Requiem bertransformasi menjadi game aksi yang luar biasa memuaskan. Leon memiliki akses ke gudang senjata BSAA yang luas melalui sistem Supply Box. Mekanik parry menggunakan kapak (hatchet) memungkinkan pertempuran jarak dekat yang intens. Leon dapat melakukan tendangan roundhouse atau takedown brutal pada musuh yang tertegun, memberikan kesempatan pemain untuk melampiaskan agresi yang terkumpul selama bermain sebagai Grace.
Visual dan Atmosfer yang Memukau
Secara visual, Resident Evil Requiem adalah salah satu game tercantik yang dirilis saat ini. Penggunaan Path Tracing menghasilkan pencahayaan yang sangat akurat, terutama di koridor sempit Hotel Wrenwood yang lembap. Nuansa kegelapan dan kesunyian yang kental menciptakan suasana waspada bagi pemain. Efek suara yang muncul secara tiba-tiba di momen yang tepat juga menambah ketegangan. Atmosfer Raccoon City juga digambarkan secara tematik dengan tepat, menunjukkan kehancuran akibat ledakan termobarik tiga puluh tahun silam.
Kekurangan dan Kesimpulan
Meskipun demikian, Resident Evil Requiem memiliki beberapa kekurangan. Area Raccoon City dirasa kurang menawarkan kedalaman eksplorasi dibandingkan labirin Rhodes Hill di awal permainan. Selain itu, dominasi warna abu-abu di beberapa area memberikan kesan monoton yang kurang menyenangkan.
Secara keseluruhan, Resident Evil Requiem adalah game luar biasa yang layak dimainkan. Game ini berhasil menutup babak sejarah Raccoon City dengan penghormatan, sembari memperkenalkan mekanisme baru yang menyegarkan genre survival horor.
| Kategori | Detail |
|---|---|
| PLATFORM | PC, Xbox Series X/S, Nintendo Switch 2, PS5 |
| DEVELOPER | Capcom |
| PUBLISHER | Capcom |
| TANGGAL RILIS | 27 Februari 2026 |
| GENRE | Survival Horror |