Ahmad Rif’an Khoirul Lisan, 32 tahun, membuktikan bahwa perjuangan tak akan mengkhianati hasil. Sempat ditentang orang tua karena keterbatasan biaya, ia berhasil menyelesaikan pendidikan hingga jenjang doktoral (S3).
Rif’an, yang diterima di Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 2012, menghadapi pertentangan dari ayahnya. Sang ayah merasa keluarga mereka tidak mampu membiayai kuliah Rif’an, sementara enam adik Rif’an masih membutuhkan perhatian.
Namun, pertentangan tersebut justru memacu semangat Rif’an. Ia ingin mengubah kondisi keluarganya melalui pendidikan.
Menyadari keterbatasan ekonomi keluarga, Rif’an tidak terlalu berharap banyak. Sejak sekolah, pria asal Pleret Bantul, Yogyakarta ini selalu mencari pekerjaan sampingan.
Awal kuliah di UGM tidaklah mudah bagi Rif’an. Tanpa dukungan finansial yang cukup, ia harus bertahan hidup sebagai mahasiswa. Rif’an beruntung mendapatkan beasiswa Bidikmisi. Ia juga aktif di berbagai organisasi kampus.
"Saya suka ikut kegiatan karena tahu ada konsumsi," kenang Rif'an dikutip dari laman ugm.ac.id, Selasa, 17 Maret 2026.
Dalam kondisi tertentu, Rif’an harus berhemat. Ia mencari warung paling murah di sekitar kampus dan membeli nasi, sayur, dan satu gorengan dengan uang saku Rp4.000.
Saat tidak memiliki komputer, Rif’an bekerja di sebuah warnet. Ia menemui Wakil Dekan bidang Kemahasiswaan dan menceritakan alasannya bekerja paruh waktu. Sang dosen kemudian memberikan komputer bekas miliknya.
Titik balik dalam hidup Rif’an datang pada tahun 2014 ketika ia diterima di program asrama pembinaan kepemimpinan Rumah Kepemimpinan. Program ini menyediakan tempat tinggal dan uang saku bulanan sekitar Rp500 ribu.
Dari tabungan tersebut, ia berkesempatan bepergian ke Kuala Lumpur.
Di semester akhir, Rif’an menjadi mentor bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare, Kediri. Kemampuan bahasa Inggrisnya meningkat pesat. Skor TOEFL-nya naik hingga sekitar 570.
Hasil tes TOEFL tersebut menjadi jalan baginya lolos mendaftar beasiswa LPDP.
Pada Desember 2018, Rif’an berangkat ke Amerika Serikat untuk studi Magister di Arizona State University. Ibunya membekalinya kering tempe.
Setelah 15 bulan di Amerika, ia kembali ke Indonesia dan menyelesaikan program Magisternya hingga lulus pada 2020.
Sepulang dari Amerika, Rif’an sempat bekerja di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dan kini menjadi dosen di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.
Pada 2024, ia kembali meraih beasiswa LPDP dan melanjutkan studi doktoral di Wageningen University & Research di Belanda dengan fokus pada pengelolaan sumber daya air dan pertanian.
"Kalau boleh menyampaikan pesan untuk siapa pun yang sedang berjuang, saya selalu percaya satu hal: Gusti mboten sare (Tuhan tidak pernah tidur)," kata Rif’an.
Menurutnya, setiap usaha tidak pernah sia-sia. "Mungkin jalannya panjang dan kadang terasa sangat berat. Tapi selama kita tetap berusaha, selalu ada jalan yang dibukakan," ujar dia.