Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga sempat menyentuh level Rp 17.310 pada perdagangan Kamis (23/4/2026) pagi. Tekanan ini dipicu oleh tingginya ketidakpastian pasar global serta konflik di kawasan Timur Tengah yang terus berlanjut.
Berdasarkan data Bloomberg yang dilansir dari Detik Finance, mata uang Paman Sam sempat menguat ke posisi Rp 17.310 pada pukul 09.35 WIB. Meski demikian, pergerakan nilai tukar menunjukkan sedikit koreksi dan ditutup pada level Rp 17.286 di akhir perdagangan hari tersebut.
Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa depresiasi rupiah secara tahun kalender (year-to-date) telah mencapai 3,54 persen. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa fluktuasi ini masih sejalan dengan pelemahan mata uang yang terjadi di kawasan regional.
"Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui intervensi di pasar offshore (NDF), pasar domestik (spot dan DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder," kata Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior BI. Penegasan ini muncul sebagai bentuk upaya bank sentral dalam menjaga daya tarik aset domestik.
Destry menambahkan bahwa cadangan devisa Indonesia tetap dalam kondisi kuat, yakni sebesar US$ 148,2 miliar pada akhir Maret 2026. BI memastikan akan terus hadir di pasar dengan langkah intervensi yang terukur demi mengawal stabilitas nilai tukar nasional di tengah guncangan eksternal.
Peneliti senior CSIS, Deni Friawan, menilai kondisi BI saat ini cukup dilematis karena keterbatasan instrumen moneter dalam menghadapi masalah yang bersifat struktural. Menurutnya, intervensi pasar secara terus-menerus berisiko menguras cadangan devisa, sementara kenaikan suku bunga dikhawatirkan dapat memperburuk keadaan ekonomi.
Deni menyoroti kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi fiskal, terutama terkait beban subsidi energi pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kenaikan harga minyak dunia tanpa penyesuaian harga BBM subsidi dianggap mempersempit ruang fiskal dan memperlebar defisit anggaran negara.
Kepala Pusat Makro Ekonomi INDEF, Rizal Taufikurahman, menyatakan bahwa lemahnya fundamental domestik membuat rupiah lebih rentan dibandingkan mata uang negara rekan (peers). Ia menekankan perlunya dukungan kebijakan fiskal dan penguatan sektor riil agar upaya stabilisasi BI tidak hanya menjadi penahan sementara.
Rizal menyarankan pemerintah untuk mempercepat implementasi Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) guna meningkatkan suplai valas. Langkah ini dianggap krusial untuk menjaga kredibilitas fiskal dan menekan ketergantungan pada impor energi yang membebani rupiah secara kronis.