Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh level Rp17.517,9 pada perdagangan Kamis (14/5/2026) pukul 12.15 WIB. Pelemahan sebesar 71,9 poin atau 0,41 persen ini dipicu oleh peningkatan permintaan greenback di pasar global serta kondisi pasar yang cenderung menghindari risiko.
Koreksi nilai tukar ini tidak hanya dialami oleh Indonesia, namun juga terjadi secara merata pada sejumlah mata uang di kawasan Asia. Dilansir dari Medcom melalui data Investing, pergerakan ini mencerminkan sikap investor yang lebih memilih aset aman di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global saat ini.
Mata uang regional lainnya terpantau bergerak naik terhadap rupiah, seperti Yuan China yang berada di level Rp2.581,22 atau menguat 0,18 persen. Ringgit Malaysia tercatat pada Rp4.458,63, Yen Jepang di angka Rp110,94 dengan kenaikan 0,11 persen, serta Baht Thailand yang naik tipis ke Rp541,513.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) sebenarnya menunjukkan pelemahan tipis sebesar 0,03 persen ke level 98,397. Namun, kondisi tersebut belum mampu mendorong penguatan mata uang negara berkembang karena adanya tekanan arus modal keluar dan sikap hati-hati para pelaku pasar.
Faktor fundamental utama yang menekan rupiah adalah rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) Amerika Serikat bulan April yang melonjak 1,4 persen secara bulanan. Secara tahunan, PPI AS melonjak hingga 6 persen, yang merupakan capaian tertinggi sejak akhir tahun 2022 dan melampaui ekspektasi pasar.
Lonjakan inflasi di tingkat produsen tersebut memperkuat dugaan bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, akan tetap mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu dekat. Indikator CME FedWatch mengonfirmasi bahwa kemungkinan penurunan suku bunga masih tertunda akibat persistennya tekanan harga energi global.
Pelaku pasar kini juga mengalihkan perhatian pada dinamika geopolitik, khususnya rencana pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Pertemuan strategis ini diprediksi akan menjadi faktor penentu volatilitas pasar keuangan di kawasan Asia pada periode mendatang.