Nilai tukar rupiah merosot sebesar 85,1 poin atau 0,49 persen ke level Rp17.490,1 per dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi perdagangan Selasa (12/5/2026) pukul 09.16 WIB. Pelemahan ini terjadi seiring dengan penguatan indeks dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian kondisi global.
Dilansir dari Medcom berdasarkan data pasar Investing, posisi Greenback terpantau solid dengan kenaikan Indeks Dolar AS sebesar 0,18 persen ke level 97,997. Mata uang Garuda tidak hanya tertekan oleh dolar AS, tetapi juga melemah terhadap mayoritas mata uang utama di kawasan Asia.
Yuan Tiongkok tercatat menguat 0,53 persen terhadap rupiah di level Rp2.573,71, disusul oleh yen Jepang pada Rp110,98 per yen dan baht Thailand di posisi Rp540,493. Di Asia Tenggara, ringgit Malaysia turut mencatat kenaikan nilai tukar sebesar 0,30 persen menjadi Rp4.448,03.
Berbeda dengan tren mata uang lainnya, euro terpantau bergerak stabil pada level Rp20.508 tanpa ada perubahan signifikan dari sesi sebelumnya. Tekanan terhadap rupiah diperparah oleh naiknya harga emas berjangka yang memicu investor beralih ke aset aman atau safe haven.
Ketidakpastian ekonomi ini dipicu oleh memanasnya tensi geopolitik setelah Iran memberikan respons resmi atas proposal penghentian konflik dari Amerika Serikat. Pihak Iran mengajukan syarat berupa penghentian perang menyeluruh, ganti rugi kerusakan, serta pengakuan kedaulatan di Selat Hormuz.
Presiden Donald Trump menolak mentah-mentah usulan tersebut dan melabeli tanggapan Teheran sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima. Trump menekankan bahwa proposal itu gagal membahas persoalan senjata nuklir dan menyebut status gencatan senjata saat ini sangat rapuh.
"Pemerintah AS kemungkinan lebih memilih tekanan ekonomi dibanding melanjutkan serangan militer langsung terhadap Iran," kata Thierry Wizman, Analis Macquarie. Menurutnya, harga minyak dunia yang tetap tinggi akibat ancaman di Teluk terus menyokong kekuatan dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang.
Wizman menambahkan bahwa ruang penguatan bagi rupiah baru akan terbuka jika stabilitas harga minyak dunia kembali terjaga. Hal tersebut sangat bergantung pada tercapainya kesepakatan perdamaian jangka panjang di kawasan Timur Tengah yang saat ini masih mengalami kebuntuan.