Nilai tukar Rupiah terus mengalami tekanan terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh level Rp 17.300 pada Kamis (23/4/2026). Penurunan tajam ini dilaporkan sebagai titik terendah mata uang domestik di tengah meningkatnya sentimen negatif pasar terhadap kebijakan ekonomi pemerintah.
Kepala Center of Industry, Trade and Investment INDEF, Andry Satrio Nugroho, mengungkapkan bahwa pelemahan ini dipicu oleh merosotnya kepercayaan investor global. Hal tersebut dilansir dari Detik Finance sebagai dampak dari minimnya transparansi pemerintah terkait kondisi fiskal saat ini.
Ketidakpastian pasar semakin diperparah dengan pencopotan dua pejabat tinggi di Kementerian Keuangan secara mendadak tanpa alasan yang jelas. Insiden tersebut membangun persepsi di kalangan investor bahwa terdapat ketidakberesan dalam pengelolaan kas negara.
"Pasar itu melihat kalau pun ada yang ditutupi-tutupi mereka pasti tidak percaya tentang hal-hal Itu. Nah itu juga menjadi sentimen yang cukup negatif terhadap kurs rupiah kita pada hari ini," kata Andry Satrio Nugroho, Kepala Center of Industry, Trade and Investment INDEF.
Andry menambahkan bahwa pemerintah seharusnya mengambil langkah nyata seperti realokasi anggaran ke sektor prioritas atau meluncurkan paket kebijakan ekonomi guna meredam dampak krisis geopolitik. Namun, ketiadaan solusi konkret hingga kini dinilai membuat tren pelemahan akan terus berlanjut.
Di sisi lain, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyoroti faktor tingginya permintaan Dolar AS di dalam negeri. Salah satu pemicu utamanya adalah kebutuhan impor minyak yang mencapai 1,5 juta barel per hari serta kewajiban pembayaran utang yang jatuh tempo dalam jumlah besar.
Ibrahim memproyeksikan nilai tukar Rupiah masih berpotensi merosot lebih dalam hingga level Rp 17.400 selama periode April 2026. Kondisi defisit anggaran yang melebar dan realisasi pendapatan pajak yang tidak mencapai target turut mendorong investor asing untuk menarik modalnya keluar dari Indonesia.