Rupiah Melemah ke Level Rp17.300 Akibat Ketidakpastian Global

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tertekan hingga menyentuh level Rp17.300 pada perdagangan Rabu pagi, 29 April 2026, dipicu sentimen geopolitik.

Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi signifikan hingga menyentuh level Rp17.300 per dolar AS pada perdagangan Rabu pagi, 29 April 2026. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan penguatan indeks dolar Amerika Serikat.

Berdasarkan data Investing yang dilansir dari Medcom, rupiah berada di posisi Rp17.308,9 per dolar AS atau melemah sebesar 0,57 persen. Sementara itu, data Bloomberg mencatatkan penurunan sebesar 0,38 persen ke level Rp17.309 per dolar AS.

Indeks dolar AS yang bergerak naik ke posisi 98,65 menambah beban bagi mata uang negara berkembang. Kondisi ini memicu pelaku pasar untuk bersikap defensif dan beralih ke aset aman (safe haven) akibat eskalasi risiko global.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama setelah pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump menunjukkan sikap skeptis terhadap proposal nuklir Iran. Isu keamanan di Selat Hormuz sebagai jalur energi vital turut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak dunia.

"Di tengah dinamika global yang masih dipenuhi ketidakpastian, khususnya terkait konflik di Timur Tengah," kata Ibrahim Assuaibi, Analis Pasar Uang. Ia menilai faktor eksternal saat ini menjadi dominan dalam menekan pergerakan nilai tukar domestik.

Isu diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan titik temu berdampak langsung pada risiko inflasi impor bagi Indonesia. Sebagai negara pengimpor minyak, volatilitas harga energi akibat gangguan distribusi di Selat Hormuz berpotensi memperparah tekanan terhadap rupiah.

Kondisi pasar saat ini sangat bergantung pada pergerakan dolar AS dan perkembangan eskalasi risiko di Timur Tengah. Selama kedua faktor tersebut belum menunjukkan tanda mereda, ruang bagi penguatan mata uang Garuda diperkirakan masih akan terbatas.

Pemerintah dan otoritas terkait kini mencermati dampak pelemahan ini terhadap biaya impor dan stabilitas arus modal asing di dalam negeri. Investor global cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko selama kondisi makroekonomi belum sepenuhnya kondusif.

Recommended