Salam Tempel Lebaran: Sejarah, Nominal, dan Kebahagiaannya

Salam tempel, tradisi berbagi uang saat Lebaran, ternyata sudah ada sejak abad pertengahan. Inilah sejarah, nominal umum, dan makna di baliknya.

Lebaran selalu menjadi momen yang dinantikan setiap tahun, identik dengan kebersamaan dan saling bermaafan. Salah satu tradisi yang tak terpisahkan adalah salam tempel.

Pembagian amplop berisi uang ini menjadi momen yang dinanti, terutama bagi anak-anak. Suasana Lebaran pun semakin semarak dengan adanya THR dari orang tua dan kerabat.

Tradisi salam tempel ternyata bukan hal baru. Menurut laman Cash Matters, praktik berbagi uang saat Idulfitri sudah ada sejak awal abad pertengahan.

Kala itu, kekhalifahan Fatimiyah di Afrika Utara membagikan uang, pakaian, hingga permen kepada masyarakat saat Idulfitri. Tradisi serupa juga tercatat pada akhir era Ottoman, sekitar lima abad kemudian.

Kebiasaan ini kemudian berkembang menjadi budaya di berbagai negara, termasuk Indonesia. Di Indonesia, salam tempel identik dengan uang pecahan baru yang mulus.

Mengapa Anak-Anak Menyukai Uang Baru?

Anak-anak lebih menyukai uang baru daripada uang lama. Fenomena ini membuat bank dipenuhi masyarakat yang ingin menukar uang menjelang Lebaran.

Hingga kini, uang baru dianggap lebih menarik untuk dibagikan dalam amplop THR.

Kisaran Nominal Salam Tempel

Berikut adalah kisaran nominal salam tempel yang umum diberikan saat Lebaran:

Kisaran Nominal Salam Tempel Lebaran
Penerima Nominal
Anak SD (bukan keluarga) Rp5.000 – Rp20 ribu
Bayi hingga SD (keluarga) Rp10 ribu – Rp50 ribu
Anak SMP–SMA (keluarga) Rp50 ribu – Rp100 ribu
Anak kuliah Rp150 ribu – Rp200 ribu
Orang tua Rp500 ribu – Rp1 juta (atau lebih sesuai kemampuan)

Tradisi salam tempel bukan hanya tentang berbagi rezeki, tetapi juga tentang kebahagiaan, kebersamaan, dan nilai berbagi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi ini selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Lebaran.

Recommended