Kekhawatiran muncul bahwa potensi perang antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran dapat memicu gangguan pada bisnis semikonduktor. Sejumlah material esensial dalam proses produksi chip ini berasal dari negara-negara di kawasan Timur Tengah.
Timur Tengah memegang peranan penting dalam rantai pasok semikonduktor global. Ketersediaan material-material krusial ini semakin mendesak di era kecerdasan buatan (AI), yang sangat bergantung pada chip dan memori untuk pusat data.
Menurut Ray Wang, seorang analis memori di SemiAnalysis, konflik regional yang berkepanjangan berpotensi mengganggu operasi manufaktur perusahaan chip terkait pengadaan material, seperti helium dan bromin. Dampak saat ini mungkin masih terbatas, namun eskalasi konflik dapat menyebabkan gangguan atau penyesuaian dalam pengadaan material utama.
Qatar menjadi produsen sepertiga dari pasokan helium dunia. Helium sendiri digunakan dalam proses manufaktur chip untuk menyebarkan panas. Gas ini juga dipakai di area seperti litografi, yang sangat penting untuk mencetak rangkaian sirkuit chip. Saat ini, belum ada alternatif pengganti helium yang layak.
Semiconductor Industry Association (SIA) telah memperingatkan pada tahun 2023 bahwa gangguan pada pasokan helium berpotensi mengguncang industri manufaktur semikonduktor global.
Selain masalah produksi, transportasi helium dari Timur Tengah juga menjadi perhatian. Penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan dapat menghilangkan lebih dari 25% pasokan helium dunia dari pasar.
Bromin, material penting lainnya dalam proses manufaktur semikonduktor, juga menjadi fokus. Sekitar dua pertiga produksi bromin dunia berasal dari Israel dan Yordania.
Sejak dimulainya perang antara AS-Israel dengan Iran, saham produsen memori seperti SK Hynix dan Samsung langsung terkena dampaknya. Nilai saham gabungan keduanya anjlok lebih dari USD 200 miliar sejak awal perang.
Jing Jie Yu, seorang analis dari Morningstar, menyatakan bahwa Samsung dan SK Hynix telah mengamankan kontrak produksi memori bandwidth tinggi (HBM) untuk tahun ini, dan keduanya memiliki cadangan material yang cukup untuk mempertahankan produksi saat ini. Akan tetapi, perang yang berkepanjangan dapat menunda pembangunan infrastruktur AI secara signifikan.
"Perang yang berkepanjangan juga meningkatkan biaya produksi, mulai dari sudut pandang utilitas sampai penurunan hasil produksi karena kurangnya bahan penstabil utama yang disebut di atas," ujar Yu.