Sektor energi nasional Arab Saudi mengalami dampak langsung akibat serangkaian serangan yang dilancarkan Iran dalam beberapa minggu terakhir. Insiden ini secara signifikan menurunkan kapasitas produksi minyak negara tersebut, demikian diungkapkan oleh Arab Saudi, dilansir dari Medcom.
Seorang pejabat dari Kementerian Energi Arab Saudi, dikutip dari Channel News Asia, menyebutkan bahwa berbagai fasilitas strategis menjadi sasaran. Serangan menargetkan infrastruktur mulai dari area produksi, transportasi, hingga fasilitas penyulingan minyak dan gas.
Selain itu, fasilitas petrokimia dan pembangkit listrik di Riyadh, Provinsi Timur, serta kawasan industri Yanbu juga tidak luput dari serangan. Dampak serangan ini menyebabkan satu warga negara Saudi meninggal dunia dan tujuh lainnya mengalami luka-luka.
Salah satu infrastruktur penting yang terkena imbas adalah stasiun pompa pada jalur pipa timur-barat, yang dikenal sebagai Petroline. Serangan di lokasi ini mengakibatkan penurunan kapasitas pompa hingga 700 ribu barel per hari.
Petroline merupakan jalur distribusi minyak yang krusial bagi Arab Saudi, membentang sepanjang 1.200 kilometer. Pipa ini menghubungkan wilayah Teluk di timur dengan Laut Merah di barat, dan memiliki kapasitas hingga 7 juta barel per hari.
Jalur pipa ini menjadi alternatif utama pengiriman minyak, terutama sejak Iran menutup Selat Hormuz. Selat Hormuz sebelumnya merupakan jalur transit bagi sekitar 20 persen pasokan minyak global, sehingga pentingnya Petroline semakin meningkat.
Fasilitas produksi di Manifa dan Khurais juga dilaporkan terdampak serangan. Secara akumulatif, kapasitas produksi minyak Arab Saudi terpangkas sekitar 600 ribu barel per hari dari fasilitas-fasilitas ini. Total produksi minyak negara tersebut saat ini berada sedikit di atas 10 juta barel per hari.
Tidak hanya sektor hulu, sejumlah kilang minyak utama di Jubail, Ras Tanura, Yanbu, dan Riyadh turut menjadi target serangan. Akibatnya, ekspor produk olahan ke pasar global mengalami gangguan, termasuk fasilitas pengolahan gas yang juga terkena dampaknya.
Kondisi ini menciptakan tekanan tambahan pada pasar energi global. Ketidakpastian semakin meningkat di tengah konflik geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah, menambah kompleksitas situasi energi global.