Tim Riset & Analisis Global (GReAT) Kaspersky mendeteksi gelombang serangan siber dari kelompok Advanced Persistent Threat (APT) SilverFox yang menyasar berbagai organisasi di Indonesia sejak Desember 2025. Kampanye ini menggunakan modus rekayasa sosial melalui email phishing bertema audit pajak resmi untuk menginfeksi jaringan target.
Dilansir dari Medcom, operasi siber ini juga menyasar institusi di Rusia, India, dan Afrika Selatan. Penyerang membidik sektor-sektor strategis seperti industri, konsultasi, perdagangan, hingga transportasi dengan memanfaatkan otoritas lembaga pemerintah dalam pesan palsu mereka.
Laporan keamanan mencatat adanya lonjakan aktivitas yang signifikan pada awal tahun ini. Antara Januari hingga Februari 2026, tercatat lebih dari 1.600 email berbahaya telah dikirimkan kepada calon korban untuk memicu rantai infeksi perangkat lunak jahat.
"SilverFox menggunakan pendekatan pengiriman multi-tahap dan berbagai domain untuk meminimalkan deteksi," ujar Anton Kargin, peneliti keamanan senior di Kaspersky GReAT. Ia menekankan bahwa keberhasilan serangan ini sangat bergantung pada tingkat kepercayaan pengguna terhadap komunikasi resmi pemerintah.
Dalam aksinya, kelompok ini memperkenalkan backdoor baru berbasis Python yang dinamai ABCDoor. Perangkat lunak berbahaya tersebut memungkinkan peretas mengendalikan sistem dari jarak jauh, melakukan streaming layar secara real-time, hingga mengakses data clipboard pada komputer yang terinfeksi.
ABCDoor disebarkan melalui backdoor lain yang sudah dikenal sebelumnya, yaitu ValleyRAT. Selain itu, para pelaku dilaporkan menggunakan versi modifikasi dari RustSL untuk memperkuat akses mereka terhadap data sensitif milik organisasi sasaran.
Sebelum kampanye terbaru ini terungkap, SilverFox memiliki rekam jejak dalam menargetkan sektor telekomunikasi, energi, logistik, dan keuangan di wilayah Asia. Kaspersky merekomendasikan peningkatan literasi digital karyawan dan penggunaan solusi intelijen ancaman untuk memitigasi risiko serangan serupa di masa mendatang.