Raksasa kopi Starbucks dilaporkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sejumlah karyawan di divisi teknologi mereka di Amerika Serikat pada Selasa (21/4/2026). Langkah efisiensi ini diambil sebagai bagian dari upaya restrukturisasi organisasi perusahaan di bawah kepemimpinan baru.
Dilansir dari Detik Finance, kebijakan pengurangan staf ini sebelumnya telah menjadi rumor yang berkembang di internal perusahaan sebelum akhirnya diumumkan. Keputusan tersebut bertujuan untuk mempercepat gerak operasional dan mempertajam fokus pada prioritas utama Starbucks saat ini.
"Kami melakukan perubahan struktural untuk bergerak lebih cepat, mempertajam fokus, dan memastikan kami siap untuk mewujudkan prioritas terpenting kami," kata manajemen Starbucks dalam pesannya kepada karyawan sebagaimana dikutip dari The Seattle Times.
Meskipun pengumuman pemangkasan telah disampaikan, pihak Starbucks hingga kini belum memberikan konfirmasi resmi mengenai jumlah pasti pekerja yang terdampak. Informasi mengenai PHK ini muncul bersamaan dengan rencana relokasi pegawai teknologi dari Seattle ke kantor baru di Nashville.
Perusahaan diketahui sedang menjalani transformasi besar di bawah arahan CEO Brian Niccol guna mengatasi penurunan laba dan masalah operasional. Fokus pada pertumbuhan teknologi juga diperkuat dengan penunjukan Anand Varadarajan, mantan petinggi Amazon, sebagai Chief Technology Officer (CTO) pada Desember lalu.
Sebagai bagian dari penghematan biaya, Starbucks telah menutup ratusan gerai di wilayah Amerika Serikat dan Kanada sepanjang tahun lalu. Di Washington saja, lebih dari 30 lokasi gerai dilaporkan telah berhenti beroperasi untuk menekan kerugian finansial.
Gelombang pengurangan karyawan ini diperkirakan masih akan berlanjut dalam waktu dekat. Setelah memberhentikan hampir 1.000 pekerja ritel dan non-ritel di wilayah Seattle serta Kent, Starbucks diprediksi akan memangkas sekitar 1.100 karyawan lainnya pada bulan depan.