Kain Kafan Turin, yang kerap diyakini sebagian kalangan sebagai pembungkus jenazah Yesus Kristus, kembali menjadi pusat perhatian. Sebuah studi terkini mengungkapkan penemuan mengejutkan, yaitu adanya DNA dari beragam spesies, termasuk wortel, pada relik tersebut. Temuan ini secara signifikan memperkuat dugaan bahwa kain tersebut bukan berasal dari era Yesus.
Penelitian yang memanfaatkan pendekatan DNA metagenomik ini menganalisis sampel kain yang sudah diteliti selama puluhan tahun. Dikutip dari Detik iNET yang melansir Live Science, hasil analisis menunjukkan bahwa kain tersebut memuat campuran DNA manusia, hewan, dan tumbuhan dalam jumlah yang sangat bervariasi.
Salah satu hasil paling mencolok adalah dominasi DNA tanaman, dengan wortel mencapai sekitar 31%. Selain itu, peneliti juga menemukan jejak DNA dari gandum, jagung, kentang, tomat, hingga kacang tanah. Hal yang menarik, beberapa dari tanaman ini baru dikenal di Eropa setelah abad ke-16, jauh melampaui masa kehidupan Yesus.
Lebih lanjut, DNA dari hewan seperti kucing dan anjing teridentifikasi dalam jumlah besar. Disusul kemudian oleh jejak sapi, kambing, babi, dan kuda. Bahkan, ditemukan pula DNA ikan serta organisme mikro seperti tungau dan kutu. Keberagaman DNA ini mengindikasikan bahwa kain tersebut telah mengalami kontaminasi lingkungan yang luas selama berabad-abad.
Para peneliti menyimpulkan bahwa kontaminasi ini kemungkinan besar terjadi karena kain tersebut sering dipindahkan, disentuh, dan dipamerkan kepada publik sejak pertama kali didokumentasikan pada abad ke-14 di Prancis. Aktivitas manusia, paparan debu, serta interaksi dengan berbagai benda lain diduga menjadi sumber utama masuknya DNA dari berbagai spesies tersebut.
Temuan ini selaras dengan hasil analisis karbon-14 yang dilakukan pada tahun 1989. Analisis tersebut mengindikasikan bahwa kain itu berasal dari periode 1260 hingga 1390 Masehi, atau era abad pertengahan. Ini berarti, pembuatan kain tersebut terjadi lebih dari seribu tahun setelah periode kehidupan Yesus.
Riset lain juga mengisyaratkan bahwa gambar sosok manusia pada kain mungkin dihasilkan melalui teknik khusus, seperti menempelkan kain pada patung relief rendah. Indikasi ini semakin memperkuat spekulasi bahwa Kain Kafan Turin adalah hasil rekayasa manusia, bukan peninggalan otentik dari peristiwa penyaliban.
Meskipun demikian, perdebatan mengenai keaslian Kain Kafan Turin belum sepenuhnya mereda. Beberapa pihak masih berpendapat bahwa kontaminasi DNA yang ditemukan dapat berasal dari paparan lingkungan selama berabad-abad, bukan sebagai bukti langsung pemalsuan kain.
Namun, secara keseluruhan, bukti ilmiah yang ada saat ini, mulai dari analisis karbon hingga studi DNA terbaru, cenderung mengarah pada satu kesimpulan. Kain Kafan Turin kemungkinan besar merupakan artefak dari abad pertengahan, dan bukan peninggalan dari era Yesus Kristus.