Superbank Bukukan Laba Rp143,3 Miliar di Tahun 2025

Superbank mencatatkan laba sebelum pajak sebesar Rp143,3 miliar pada 2025, didorong pertumbuhan pendapatan dan ekspansi kredit.

PT Super Bank Indonesia Tbk (Superbank), yang didukung oleh Grab, Emtek, Singtel, KakaoBank, dan GXS, mengakhiri tahun 2025 dengan kinerja keuangan yang solid. Setelah Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia pada Desember 2025, Superbank mencatatkan beberapa pencapaian strategis.

Sepanjang tahun 2025, Superbank berhasil membukukan Laba Sebelum Pajak (PBT) sebesar Rp143,3 miliar. Hal ini menunjukkan keberhasilan model bisnis digital berbasis ekosistem yang dijalankan secara disiplin dan berkelanjutan.

Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan, menyatakan bahwa tahun 2025 merupakan periode transformasional bagi Superbank. Menurutnya, Superbank mencatatkan laba untuk pertama kalinya pada kuartal pertama 2025 dan menutup tahun dengan pertumbuhan yang kuat di seluruh indikator utama.

Tigor menambahkan, momentum IPO tidak hanya memperkuat struktur permodalan, tetapi juga meningkatkan kepercayaan nasabah terhadap Superbank sebagai bank dengan layanan digital yang tumbuh sehat, efisien, dan relevan. Capaian ini mencerminkan konsistensi strategi, tata kelola yang solid, serta sinergi yang kuat dengan ekosistem dalam memperluas akses layanan keuangan digital di Indonesia.

Kinerja Superbank pada tahun 2025 didukung oleh pertumbuhan pendapatan yang kuat dan ekspansi kredit yang dijalankan dengan prinsip kehati-hatian. Pendapatan Bunga Bersih (NII) meningkat 160% year-on-year (YoY) menjadi Rp1,6 triliun, sejalan dengan pertumbuhan kredit sebesar 50% YoY menjadi Rp9,6 triliun, terutama pada segmen ritel dan UMKM.

Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tumbuh signifikan sebesar 139% YoY menjadi Rp11,8 triliun, sementara total aset meningkat 87% YoY menjadi Rp21,3 triliun, mencerminkan ekspansi usaha yang sehat dan terukur.

Efisiensi operasional menunjukkan perbaikan yang signifikan seiring dengan peningkatan skala bisnis, tercermin dari Cost to Income Ratio (CIR) yang membaik menjadi 70,52% dibandingkan 139.16% pada tahun sebelumnya. Kualitas aset tetap terjaga dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) Gross di level 2,60% dan NPL Net sebesar 0,68%, didukung struktur likuiditas yang sehat dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 81,32%. Net Interest Margin (NIM) juga meningkat menjadi 10,64%, memperkuat fundamental profitabilitas Perseroan.

Sinergi dengan Ekosistem

Superbank terus memperkuat penetrasi layanan digital melalui kolaborasi strategis dalam ekosistem. Ini termasuk peluncuran OVO 1 Nabung by Superbank, Kartu Untung dengan KakaoBank, serta integrasi pengajuan Pinjaman Atur Sendiri (PAS) langsung melalui aplikasi Grab dan OVO.

Sejak peluncuran aplikasi digital pada Juni 2024, Perseroan telah melayani lebih dari 6 juta nasabah dengan rata-rata transaksi melampaui 1 juta transaksi per hari, mencerminkan tingginya tingkat adopsi dan engagement pengguna dalam ekosistem digital Superbank.

Memasuki tahun 2026 sebagai bank KBMI 2, Superbank optimis melanjutkan pertumbuhan berkelanjutan dengan fokus pada inovasi teknologi, penguatan sinergi ekosistem, serta penerapan manajemen risiko yang prudent guna menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan.

Recommended