SUSTAINABILITAS telah meluncurkan kembali skema pembiayaan proyek ramah lingkungan, sebagai upaya untuk mendorong ekonomi hijau di Indonesia. Peluncuran ini, yang dilaksanakan di Jakarta pada Selasa (7/4), ditandai dengan penandatanganan nota kesepakatan bersama Global Alliance for a Sustainable Planet, demikian dilansir dari Detik Finance.
Skema pembiayaan ini sebenarnya telah ada sejak tahun 2016. Fokus utamanya adalah pendanaan jangka panjang bagi berbagai proyek strategis, termasuk energi terbarukan, pertanian berkelanjutan, dan inisiatif pengurangan deforestasi yang krusial.
Direktur SUSTAINABILITAS, William Sabandar, menjelaskan bahwa platform ini akan dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas. Ini mencakup kajian mendalam, penyusunan rekomendasi kebijakan, hingga pengembangan investasi serta kemitraan dengan beragam pihak.
"SUSTAINABILITAS adalah rumah bagi TLFF, di sini kami bersama sama akan membuat kajian, policy recommendations, melihat potensi penanganan, partnership dengan berbagai pihak, investasi untuk pendanaan, pelaku bisnis dan initiator sampai ke pemberdayaan bagi komunitas dan masyarakat," jelasnya.
Sekretaris Jenderal Global Alliance for a Sustainable Planet, Satya Tripathi, menilai bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi hijau. Potensi ini turut didukung oleh cadangan karbon yang melimpah.
Ia menyoroti bahwa target Net Zero 2030 memberikan konteks yang lebih kuat bagi implementasi kebijakan dan strategi di lapangan. Hal ini dapat secara langsung memulihkan ekosistem dan ekologi.
"berbanding dengan 10 tahun yang lalu, Indonesia mempunyai kesempatan dan tantangan yang sama besarnya. Dengan target Net Zero 2030, TLFF mempunyai konteks yang lebih baik dari sisi policy, strategy dan kegiatan lapangan yang dapat langsung mengembalikan ekosistem dan ekologi. Indonesia menjadi wadah yang baik untuk berbagai kegiatan TLFF dengan kayanya sumber daya, apalagi dengan adanya perhitungan cadangan karbon sebesar 600 juta ton. Jika ini dilakukan mulai sekarang, keadilan bagi semua tidak hanya pada masyarakat Indonesia tapi juga bagi kehidupan ekologinya," ujar Satya Tripathi.
Tripathi juga menekankan bahwa kolaborasi merupakan kunci utama untuk mencapai target net zero di masa depan. Kerjasama yang terfokus pada lingkungan dan pertumbuhan ekonomi hijau diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.
Hal ini dapat terwujud melalui penataan diri dan kolaborasi yang sinergis, dengan tujuan mencapai manfaat yang dicanangkan terjadi pada tahun 2030, tambahnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said, menyoroti pentingnya peran institusi dalam mendorong implementasi gagasan di sektor ekonomi hijau.
"Saya percaya pada kolaborasi dan institusi. Ide hanya akan memiliki dampak nyata bila diwadahi oleh institusi. Institusi akan melahirkan leadership, policy, dan actions. Institusi-lah yang akan sustain-lestari bahkan ketika para penggagasnya sudah tidak ada lagi," kata Sudirman.
Skema pembiayaan ini dirancang untuk mendukung proyek-proyek yang secara langsung memberikan dampak positif kepada masyarakat. Terutama pada sektor energi, pertanian, dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.