Indonesia menduduki posisi ke-12 secara global sebagai negara dengan tarif internet broadband kabel paling terjangkau berdasarkan laporan Global Broadband Price League pada Rabu, 22 April 2026. Capaian ini menempatkan Indonesia di peringkat kedua di wilayah Asia Tenggara setelah Vietnam.
Data riset dari Broadband Genie menunjukkan rata-rata biaya berlangganan internet tetap di Indonesia mencapai USD 10,66 atau setara Rp181 ribu setiap bulannya. Angka tersebut dilansir dari Detik iNET yang merujuk pada pembaruan harga layanan komunikasi global tahun ini.
Vietnam memimpin pasar regional dengan tarif rata-rata USD 10,24, sementara Indonesia berhasil melampaui harga layanan di Malaysia, Singapura, dan Filipina. Sebaliknya, Timor Leste menjadi negara dengan biaya internet termahal di Asia Tenggara yang menyentuh angka USD 124,50 per bulan.
Laporan tersebut menjelaskan bahwa kondisi geografis dan ketersediaan infrastruktur menjadi faktor penentu utama perbedaan harga antarnegara. Wilayah kepulauan atau daerah terpencil seringkali menghadapi biaya operasional lebih tinggi akibat keterbatasan akses jaringan fisik.
Meskipun harga berlangganan tergolong murah, kualitas layanan dari aspek kecepatan di Indonesia masih menghadapi tantangan kompetitif. Dengan kecepatan rata-rata 31,2 Mbps, beban biaya per Mbps di tanah air diperkirakan mencapai USD 0,34.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan Singapura dan Thailand yang mencatat efisiensi biaya per Mbps sebesar USD 0,08. Singapura memiliki keunggulan kecepatan rata-rata hingga 410 Mbps yang membuat harga satuan data menjadi jauh lebih rendah dibanding Indonesia.
Secara global, Iran menempati urutan pertama sebagai negara dengan tarif internet kabel paling murah di dunia. Masyarakat di sana hanya perlu mengeluarkan biaya rata-rata sekitar USD 2,61 untuk akses internet broadband setiap bulannya.