Negara Teluk Gunakan Teknologi Anti-Drone Ukraina Hadapi Ancaman Iran

Negara-negara Teluk dan AS mengadopsi teknologi pertahanan udara Ukraina untuk mencegat serangan drone murah Iran sejak akhir Maret 2026.

Sejumlah negara di kawasan Teluk beserta Amerika Serikat mulai mengadopsi teknologi anti-drone buatan Ukraina untuk memperkuat pertahanan dari serangan pesawat nirawak Iran sejak akhir Maret 2026. Langkah ini diambil karena efektivitas sistem Ukraina yang telah teruji dalam pertempuran melawan Rusia.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengunjungi Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar pada penghujung Maret guna menawarkan keahlian kontra-drone serta menandatangani perjanjian pertahanan sepuluh tahun. Zelenskyy mengonfirmasi keterlibatan pasukan Ukraina dalam operasi pencegatan drone Shahed di wilayah tersebut.

Dilansir dari Detik iNet, militer Amerika Serikat kini mengoperasikan Sky Map di Pangkalan Udara Pangeran Sultan, Arab Saudi. Platform komando asal Ukraina ini digunakan untuk mendeteksi pergerakan drone melalui sistem sensor akustik dan kecerdasan buatan.

Penggunaan teknologi ini dipicu oleh ancaman drone Shahed-136 buatan Iran yang berharga murah, yakni antara USD 20.000 hingga USD 50.000 per unit. Biaya produksi tersebut jauh lebih rendah dibandingkan rudal pencegat Patriot milik AS yang biasa digunakan untuk menjatuhkannya.

Drone Shahed sulit dilacak radar karena terbang rendah meski suaranya bising akibat mesin piston sederhana. Untuk mengatasinya, Ukraina mengirimkan perwira militer ke Arab Saudi guna melatih personel AS dalam mengoperasikan perangkat lunak pendeteksi ancaman udara tersebut.

Sistem pertahanan ini mengandalkan drone pencegat seperti 'The Sting' dan 'P1-Sun' yang memiliki biaya produksi rendah, yakni USD 1.000 hingga USD 3.000. 'The Sting' mampu melaju hingga 342 kilometer per jam dan dilengkapi kamera termal untuk menghantam target secara presisi.

Perusahaan Sky Fortress, yang mengembangkan platform Sky Map, telah menempatkan lebih dari 10.000 sensor akustik di Ukraina untuk memetakan suara mesin drone. Teknologi ini menghubungkan radar dan AI agar drone pencegat dapat melakukan manuver otonom saat sinyal GPS terganggu.

Setiap drone pencegat dikendalikan oleh pilot terlatih melalui kacamata first person view (FPV) untuk memastikan akurasi serangan. Saat ini, sistem tersebut terus diperbarui dengan fitur anti-pengacauan sinyal guna menghadapi varian terbaru drone navigasi musuh.

Recommended