Tikus Berjambul Afrika Simpan Racun Tanaman untuk Lumpuhkan Pemangsa

Lophiomys imhausi menjadi satu-satunya mamalia yang menyerap racun pohon panah Afrika untuk mekanisme pertahanan diri dari serangan pemangsa.

Spesies tikus berjambul Afrika atau Lophiomys imhausi menggunakan mekanisme pertahanan unik dengan menyerap racun tanaman mematikan untuk melumpuhkan pemangsa pada pengamatan Rabu, 13 Mei 2026. Hewan pengerat ini menjadi satu-satunya mamalia yang diketahui mampu menyimpan racun dari spesies lain dalam struktur bulu khususnya.

Dilansir dari Detik iNET, tikus ini memiliki kemampuan luar biasa untuk mengonsumsi kulit pohon panah beracun Afrika, Acokanthera schimperi. Tanaman tersebut mengandung senyawa cardenolide seperti ouabain yang dapat memicu henti jantung pada hewan besar, termasuk gajah dewasa.

Lophiomys imhausi dewasa dapat tumbuh hingga ukuran 530 mm dengan ciri khas surai bergaris hitam dan putih di sepanjang tubuhnya. Saat merasa terancam, tikus tersebut akan menegakkan surainya untuk memperlihatkan warna peringatan sekaligus memaparkan bulu yang telah terlapisi racun.

Proses pelapisan racun dilakukan dengan cara menjilati bulu-bulu di sekitar kelenjar samping tubuh menggunakan air liur yang telah bercampur senyawa kimia dari pohon panah. Struktur bulu tikus ini berevolusi secara khusus agar dapat menyerap, menyebarkan, dan menyimpan cairan beracun tersebut di bagian dalamnya.

Dampak serangan terhadap tikus ini sangat fatal bagi pemangsa yang mencoba menggigitnya karena senyawa beracun akan langsung masuk ke aliran darah. Anjing yang menyerang spesies ini dilaporkan dapat mengalami muntah, kejang, hingga kematian akibat paparan racun yang tersimpan di bulu tikus.

Hingga saat ini, para ilmuwan masih meneliti alasan tikus berjambul tidak ikut mati saat mengonsumsi tanaman beracun tersebut. Muncul teori bahwa bakteri dalam lambung mereka mampu mengurai senyawa mematikan itu atau adanya variasi biokimia khusus pada superfamili Muroidea.

Habitat asli hewan ini tersebar di wilayah Somalia, Etiopia, Sudan, Tanzania, Kenya, Jibuti, dan Eritrea. Meski memiliki pertahanan mematikan, tikus yang hidup menyendiri ini sebenarnya mengonsumsi makanan utama berupa daun, buah, dan terkadang serangga atau akar pohon.

Recommended