Generasi Z kembali mempopulerkan penggunaan perangkat pemutar musik iPod sebagai alternatif mendengarkan lagu tanpa distraksi internet pada Minggu, 3 Mei 2026. Meski Apple telah menghentikan produksi sejak empat tahun lalu, gawai lawas ini kini dicari karena sifatnya yang sederhana dan bebas dari gangguan notifikasi smartphone.
Kenaikan minat terhadap iPod ini memicu lonjakan harga yang cukup signifikan di pasar barang bekas. Dilansir dari Medcom, laporan dari situs BGR menunjukkan harga beberapa model iPod bekas bahkan melonjak hingga 60 persen dibandingkan tahun sebelumnya akibat tingginya permintaan pasar.
Data dari platform jual beli eBay mencatat adanya peningkatan pencarian untuk model iPod Classic sebesar 25 persen. Sementara itu, varian iPod Nano mengalami kenaikan pencarian sebesar 20 persen dengan jumlah daftar penjualan yang tumbuh hingga 30 persen di periode yang sama.
Faktor utama kembalinya popularitas perangkat ini adalah keinginan pengguna untuk menghindari algoritma layanan streaming dan iklan. Mengutip laporan New York Time Post, iPod memberikan kebebasan bagi pengguna muda untuk memilih lagu secara manual tanpa terganggu pesan masuk atau aktivitas aplikasi media sosial.
Kebijakan institusi pendidikan juga turut mendorong penggunaan perangkat ini di kalangan pelajar. Beberapa sekolah yang melarang penggunaan ponsel pintar tetap mengizinkan pemakaian iPod karena perangkat tersebut tidak memiliki akses internet dan fungsi komunikasi telepon.
Perangkat yang pertama kali diperkenalkan pada 2001 ini sempat merevolusi industri musik dengan kemampuan menyimpan ribuan lagu dalam satu genggaman. Kini, model seperti iPod Classic, Nano, hingga Shuffle kembali beredar luas di pasar kolektor dan pengguna harian.
Meskipun fungsi pemutar musik telah terintegrasi dalam iPhone dan iPad, iPod tetap dinilai memiliki karakteristik unik yang tidak dimiliki gawai modern lainnya. Saat ini, kepemilikan iPod dianggap sebagai bagian dari gaya hidup minimalis digital yang sedang berkembang di kota-kota besar.