Uni Emirat Arab (UEA) secara resmi menyatakan pengunduran diri dari keanggotaan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) efektif mulai Jumat, 1 Mei 2026. Langkah strategis ini diambil guna memberikan keleluasaan bagi negara tersebut dalam menetapkan kebijakan produksi minyak secara mandiri tanpa terikat kuota organisasi.
Hengkangnya UEA diprediksi akan mengubah peta kekuatan pasar energi dunia dan melemahkan dominasi Arab Saudi di dalam kartel tersebut. Sebagai anggota paling berpengaruh kedua setelah Saudi, keputusan UEA dilaporkan memberikan sentimen negatif terhadap stabilitas harga minyak dunia dalam jangka panjang.
Dilansir dari Detik Finance, UEA kini memegang kendali signifikan atas kapasitas produksi cadangan dunia. Data menunjukkan gabungan kapasitas cadangan Arab Saudi dan UEA mencapai lebih dari 4 juta barel per hari yang selama ini berfungsi sebagai penyangga harga saat krisis global terjadi.
"Oleh karena itu, keluarnya UEA menghilangkan salah satu pilar utama yang menopang kemampuan OPEC dalam mengelola pasar," kata Jorge León, Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy. Kehilangan pilar ini dianggap akan mempersulit OPEC dalam menstabilkan harga minyak ke depannya.
Menteri Energi UEA, Suhail Al Mazrouei, menegaskan bahwa proses keluarnya negara tersebut telah diatur sedemikian rupa untuk meminimalkan gangguan terhadap produsen lain. Ia menjelaskan bahwa UEA menargetkan peningkatan kapasitas produksi hingga mencapai 5 juta barel per hari pada tahun 2027 mendatang.
Muncul spekulasi bahwa ketegangan regional akibat serangan rudal di Selat Hormuz menjadi pendorong keputusan ini, namun pemerintah UEA secara tegas membantahnya. Fokus utama UEA disebut murni pada kebebasan produksi minyak nasional demi memperkuat pondasi ekonomi negara.
Pengamat dari Lipow Oil Associates, Andy Lipow, menilai UEA mulai merasa tidak nyaman dengan kepatuhan kuota yang ketat sementara negara anggota lain seperti Rusia dan Irak kerap melanggarnya. UEA diperkirakan akan segera memaksimalkan seluruh kapasitas produksinya segera setelah konflik di jalur pengiriman Selat Hormuz mereda.