Universitas Kristen Maranatha (UK Maranatha) menggandeng beberapa institusi di Jepang untuk melakukan kajian pengendalian banjir. Penelitian ini akan meninjau upaya pengendalian banjir dari perspektif fisik dan psikologis.
Kolaborasi ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pencegahan bencana di kedua negara. Japan Society for the Promotion of Science (JSPS) memprakarsai penelitian dua negara ini melalui program Invitational Fellowships for Research in Japan.
Menurut Guru Besar pakar hidroteknik UK Maranatha, Robby Yussac Tallar, Jepang terbilang maju dalam penanganan banjir secara komprehensif. Hal ini termasuk aspek sosial dan psikologis masyarakatnya. Robby menyampaikan keterangan tertulisnya pada Selasa, 3 Maret 2026.
Saat ini, Robby tengah melakukan riset di Aichi Shukutoku University, Jepang, sebagai visiting researcher. Proyek riset yang dimulai sejak awal tahun ini akan berlangsung hingga Maret 2026.
Bersama Prof. Kazumi Ogawa dari Aichi Shukutoku University, Robby melakukan penelitian multidisiplin berjudul “Integrating Social and Human Aspects to Strengthen Flood Damage Mitigation in Remote Islands and Coastal Areas.”
Robby yang juga menjabat sebagai Ketua HydroLink Centre of Excellence UK Maranatha menjelaskan bahwa program JSPS menjadi jembatan resmi. Tujuannya, memperkuat kolaborasi internasional terkait mitigasi banjir dengan menggabungkan konteks sosio-psikologis dan geografis masyarakat dari kedua area studi.
Selama di Jepang, Robby tidak hanya melakukan riset di lingkungan kampus AS University, tetapi juga mengunjungi Disaster Mitigation Research Center (DMRC) di Nagoya University. DMRC merupakan pusat penelitian untuk mengurangi risiko bencana alam seperti banjir.
Sebagai salah satu pusat unggulan di UK Maranatha, HydroLink berkomitmen untuk melakukan penelitian lintas disiplin ilmu terkait pengelolaan sumber daya air berkelanjutan. Saat ini, HydroLink juga tengah mengembangkan metode prediksi banjir yang memanfaatkan teknologi digital dan sistem informasi.
Penelitian lain yang tengah dilakukan HydroLink berjudul “Evaluasi dan Prediksi Dampak Perubahan Tata Guna Lahan dan Iklim terhadap Kerentanan Banjir di Provinsi Bali dengan Metode Sistem Informasi Geografis”. Penelitian ini akan berlangsung selama dua tahun ke depan, dengan dukungan pendanaan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Riset ini, menurut Robby, akan menghasilkan inovasi berupa metodologi prediksi dan karakteristik aliran banjir yang dapat direplikasi. Selain itu, juga akan dihasilkan peta potensi bencana banjir sebagai acuan pengambilan kebijakan.
Robby menambahkan, dampak langsung yang dirasakan masyarakat, terutama para pemangku kebijakan di Provinsi Bali, adalah adanya informasi wilayah potensi banjir yang akurat. Informasi ini dapat menjadi acuan rencana dan upaya mitigasi bencana banjir, baik secara struktural maupun non-struktural.