Praktik diskriminasi linguistik dalam pengajaran bahasa Inggris di Indonesia masih sangat kuat, bahkan cenderung jarang dibahas di ruang publik maupun kebijakan pendidikan. Demikian sorotan yang disampaikan Guru Besar Bidang Ilmu Linguistik Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya, Prof. Christine Manara, Ph.D.
Menurut Manara, selama puluhan tahun pendidikan bahasa Inggris di Indonesia seolah terjebak dalam mitos besar bahwa guru terbaik adalah mereka yang dikenal sebagai native English speaker. Asumsi ini seringkali hanya didasarkan pada aspek fisik, kebangsaan, dan ras, bukan pada kemampuan pedagogi atau kecerdasan linguistik yang sebenarnya.
Akibatnya, guru bahasa Inggris lokal sering dipandang sebelah mata dibandingkan penutur asing, meskipun telah memiliki sertifikasi resmi, gelar akademik, dan pelatihan bertahun-tahun. Padahal, para guru lokal ini telah melalui proses sertifikasi dan pelatihan yang ketat untuk mengajar, seperti dilansir dari Medcom.
Christine menguji audiensnya dengan menampilkan gambar sosok kulit putih, dan secara spontan banyak yang menganggapnya sebagai penutur asli yang lebih kompeten. "Ini bukan salah Anda sepenuhnya, tapi hasil dari ideologi yang ditanamkan terus-menerus melalui media dan Hollywood," kata Manara saat menyampaikan orasi ilmiah dalam Pengukuhan Profesor Unika Atma Jaya pada Rabu, 8 April 2026.
Manara juga mengungkapkan frustrasinya akan kondisi ini. Guru lokal harus terus-menerus membuktikan kualitasnya di tengah keraguan publik. "Secara kemampuan, kami setara. Kami juga sudah ditraining dengan baik, tetapi kepercayaan itu masih kurang, terutama dari masyarakat," ujarnya.
Kondisi ini diperparah dengan mentalitas inferior di masyarakat yang merasa rendah diri jika tidak diajar langsung oleh penutur asing. Selain itu, dominasi bisnis tes bahasa, seperti TOEFL atau IELTS, dijadikan satu-satunya tolok ukur kualitas. Padahal, standar tersebut sering kali gagal menguji kemampuan mengajar maupun kecakapan komunikasi di dunia nyata.
Manara juga menyoroti penggunaan kurikulum yang tidak relevan. Banyak metode pengajaran Barat dipaksakan mentah-mentah tanpa mempertimbangkan kebutuhan lokal serta konteks budaya unik di Indonesia. "Tes hanya satu indikator, bukan satu-satunya. Namun di Indonesia, porsinya sering kali lebih besar dibandingkan sertifikasi atau pengalaman mengajar," jelasnya.
Oleh karena itu, Manara memperkenalkan konsep Transpeakerism. Di era digital saat ini, tujuan belajar bahasa Inggris tidak lagi semata-mata agar bisa bicara persis seperti orang Amerika atau Inggris. Tujuannya adalah menjadi komunikator cerdas secara lintas budaya.
"Cara otak seorang multilingual (orang yang menguasai banyak bahasa) bekerja itu berbeda dan jauh lebih kaya. Kita punya kearifan lokal, sopan santun, dan berbagai sumber daya komunikasi yang tidak dimiliki penutur monolingual," jelasnya.
Manara mendesak pemerintah dan lembaga pendidikan untuk melupakan ketidakadilan ini dan berhenti mengambil keputusan berdasarkan penampilan semata. Kunci masa depan pendidikan bahasa Inggris terletak pada intelligibility atau kejelasan komunikasi dan relational competence, yaitu kemampuan membangun hubungan antarbudaya.
"Kita harus memberi kepercayaan kepada guru-guru kita sendiri. Kami profesional, kami terlatih, dan kami kompeten. Sudah saatnya diskriminasi linguistik ini dihentikan," tegas Manara.
Ia berharap, ke depan guru bahasa Inggris di Indonesia mendapatkan kepercayaan yang setara, serta mampu bersaing secara profesional tanpa dibayangi stigma sebagai non-native speaker.