Universitas Pelita Harapan (UPH) resmi mengukuhkan Prof. Dr. dr. Antonia Anna Lukito, Sp.JP(K), FIHA, FAPSIC, FASCC, FSCAI, sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Jantung dan Pembuluh Darah. Pengukuhan ini diselenggarakan pada 28 Maret 2026 di Fakultas Kedokteran (FK) UPH.
Penyakit kardiovaskular terus menjadi ancaman global, menyebabkan sekitar 19,8 juta kematian pada tahun 2022. Di Indonesia sendiri, prevalensi penyakit jantung menunjukkan peningkatan signifikan, mencapai 1,08% pada tahun 2023, atau lebih dari dua kali lipat dalam satu dekade terakhir. Fenomena ini menyoroti urgensi akan inovasi dalam pencegahan dan deteksi dini.
Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul "Kalsifikasi Koroner: Jendela untuk Memahami Penuaan Dinding Arteri Menuju Pencegahan Kardiovaskular Berbasis Risiko", Prof. Antonia mengemukakan pentingnya kalsifikasi koroner sebagai indikator deteksi dini. Kondisi ini, yang merupakan penumpukan kalsium pada dinding arteri koroner, kerap terjadi seiring proses penuaan dan dipengaruhi oleh faktor risiko seperti diabetes, hipertensi, serta kolesterol tinggi.
Menurut Prof. Antonia, sebagaimana dilansir dari Medcom, kalsifikasi koroner bukan sekadar gambaran kerusakan radiologis, melainkan refleksi dari proses biologis jangka panjang yang terjadi pada dinding arteri. Kondisi ini berfungsi sebagai "jendela" bagi para dokter untuk mengamati penuaan arteri, atau yang dikenal sebagai arterial aging, yang seringkali tidak menunjukkan gejala selama bertahun-tahun.
Melalui teknologi pencitraan, para profesional medis dapat mengategorikan pasien berdasarkan tingkat risiko secara lebih akurat. Tingginya tingkat kalsifikasi menunjukkan adanya plak aterosklerotik yang luas. Sebaliknya, ketiadaan kalsifikasi memungkinkan klinisi untuk lebih berfokus pada perubahan gaya hidup guna pencegahan.
Peran Teknologi dalam Skrining Jantung di Indonesia
Lebih lanjut, Prof. Antonia menekankan pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) dan teknologi pencitraan untuk melakukan pengukuran kalsifikasi koroner secara lebih efisien dan konsisten. Pendekatan ini sangat mendukung konsep skrining oportunistik, yang dinilai relevan bagi sistem kesehatan Indonesia yang memiliki keterbatasan sumber daya namun menghadapi beban penyakit jantung yang tinggi.
“Pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, membuka peluang baru dalam menjadikan kalsifikasi koroner sebagai alat skrining yang lebih luas dan efisien. Namun, penerapannya harus tetap mempertimbangkan konteks lokal, agar dapat memberikan manfaat optimal dalam memperkuat pencegahan penyakit kardiovaskular, baik pada tingkat individu maupun populasi,” ujar Prof. Antonia.
Rektor UPH, Dr. (Hon.) Jonathan L. Parapak, M.Eng., Sc., mengungkapkan rasa bangga atas pengukuhan Prof. Antonia sebagai Guru Besar ke-45 di UPH. Apresiasi serupa juga disampaikan oleh Pendiri Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH), Dr. (H.C.) James T. Riady, yang memuji dedikasi Prof. Antonia dalam melayani dan mendidik calon dokter muda.
Pendiri Lippo Group, Dr. (H.C.) Mochtar Riady, turut menambahkan bahwa penambahan Guru Besar merupakan fondasi penting dalam memajukan pendidikan nasional. Dekan FK UPH Prof. Dr. Dr. dr. Eka Julianta Wahjoepramono Sp.BS (K), PhD, berharap Prof. Antonia dapat terus berkontribusi bagi Indonesia melalui keahliannya.