Sejumlah vendor smartphone besar asal China, termasuk Oppo, Vivo, Xiaomi, dan Transsion, dilaporkan telah merevisi turun target pengiriman perangkat mereka untuk tahun 2026. Penyesuaian ini terjadi akibat lonjakan signifikan harga komponen memori global, khususnya DRAM dan penyimpanan, yang berdampak langsung pada biaya produksi.
Awalnya, proyeksi menunjukkan pemangkasan pengiriman hingga 20% untuk Xiaomi dan Oppo, serta sekitar 15% untuk Vivo. Namun, sumber internal industri menyebut praktik "overreporting" sering dilakukan vendor untuk mengamankan pasokan. Penurunan riil diperkirakan berkisar 10% dari volume tahun lalu, dilansir dari Medcom.
Strategi pengurangan produksi ini tidak merata di semua segmen. Para vendor cenderung mengurangi fokus pada perangkat kelas menengah ke bawah dan di beberapa pasar global tertentu. Sebagai gantinya, mereka kini mengalihkan perhatian ke produksi perangkat kategori flagship atau premium.
Segmen premium dinilai lebih mampu menjaga margin keuntungan perusahaan di tengah tekanan biaya komponen yang terus meningkat. Kenaikan harga memori memang menjadi pemicu utama perubahan strategi bisnis ini.
Produsen memori global seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron sebelumnya telah merencanakan kenaikan harga DRAM hingga 60-70% sejak kuartal pertama 2026. Hal ini memaksa vendor smartphone untuk lebih selektif dalam menentukan volume produksi, sekaligus menjaga keseimbangan antara harga jual dan profitabilitas.
Presiden Xiaomi, Lu Weibing, mengakui dampak kenaikan harga memori ini secara terang-terangan melalui media sosial Weibo. Menurutnya, Xiaomi harus membayar selisih harga hingga 1.500 yuan (sekitar Rp3,7 juta) untuk paket memori RAM 12 GB/512 GB pada kuartal I-2026, dibanding kuartal yang sama tahun 2025.
"Kenaikan harga memori akhir-akhir ini memang sangat jauh dari ekspektasi, dengan lonjakan harga empat kali lipat dibanding kuartal pertama tahun lalu," kata Weibing, dikutip dari sumber pendukung.
Di Indonesia, kenaikan harga ini sudah terasa. Sejumlah ponsel dari merek Oppo, Xiaomi, Vivo, dan Tecno telah mengalami penyesuaian harga per 1 April 2026. Kenaikannya bervariasi, mulai dari Rp200.000 hingga lebih dari Rp1 juta, mencakup segmen entry-level hingga flagship.
Misalnya, beberapa model Samsung Galaxy A series juga mengalami kenaikan harga. Seri Redmi dan Poco dari Xiaomi, serta iQoo dari Vivo, juga tidak luput dari penyesuaian harga. Hal ini menandakan berakhirnya era "spek tinggi, harga miring" yang selama ini banyak ditawarkan oleh vendor-vendor China.
Di tengah kondisi ini, tidak semua merek mengalami tekanan yang sama. Huawei, Honor, dan Lenovo dilaporkan memiliki pendekatan rantai pasok yang berbeda, sehingga relatif lebih fleksibel menghadapi kenaikan harga komponen. Huawei bahkan mempertimbangkan strategi penyesuaian harga untuk meningkatkan daya saing.
Lembaga riset IDC melabeli kondisi ini sebagai "structural reset", yang berarti perubahan mendasar dalam struktur industri smartphone. Ini mengindikasikan bahwa harga smartphone ke depan tidak akan lagi sama seperti beberapa tahun sebelumnya.
Akar masalah krisis memori ini bermula dari lonjakan permintaan chip memori untuk mendukung pusat data kecerdasan buatan (AI). Server AI membutuhkan jenis memori berkecepatan tinggi, seperti high-bandwidth memory (HBM), yang sering dipasangkan dengan unit pengolah grafis (GPU) canggih.
Produsen memori raksasa seperti Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology mengalihkan sebagian besar kapasitas produksinya dari memori konvensional untuk ponsel dan PC ke memori khusus server AI yang lebih menguntungkan. Akibatnya, pasokan memori untuk perangkat konsumen menjadi sangat langka.
Lembaga riset TrendForce mencatat, harga DRAM meroket hingga 90-95% hanya dalam satu kuartal. Sementara itu, harga NAND flash, memori penyimpanan internal, melonjak 55-60% pada periode yang sama. Situasi ini diperparah oleh ketegangan geopolitik yang mengganggu rantai pasok semikonduktor global.
CEO Dell Technologies, Michael Dell, memprediksi kebutuhan memori global untuk infrastruktur AI akan melonjak hingga 625 kali lipat pada tahun 2028 dibandingkan level 2022. Peningkatan ini didorong oleh kapasitas memori per akselerator yang semakin besar serta perluasan sistem pusat data secara masif.
Ketimpangan antara pasokan dan permintaan yang meroket ini menciptakan kekhawatiran serius mengenai stabilitas harga perangkat elektronik di masa depan. Produsen memori cenderung memprioritaskan pasokan untuk server AI yang jauh lebih menguntungkan, berdampak pada ketersediaan dan harga untuk sektor konsumen.
Langkah penyesuaian produksi ini mencerminkan dinamika baru di industri smartphone, di mana vendor tidak lagi hanya mengejar volume penjualan. Mereka kini lebih menitikberatkan pada efisiensi dan margin keuntungan di tengah fluktuasi harga komponen global yang tidak terduga.