Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menginvestigasi dugaan penularan Hantavirus antarmanusia di kapal pesiar MV Hondius setelah tiga penumpang dinyatakan meninggal dunia pada Selasa (5/5/2026). Kapal yang mengangkut 149 orang dari 23 negara tersebut kini tertahan di perairan Tanjung Verde, Afrika Barat.
Dilansir dari Detik iNET, otoritas medis setempat telah memberlakukan pengawasan ketat terhadap seluruh penumpang dan kru di atas kapal. Penyelidikan awal menunjukkan pola penyebaran yang tidak biasa pada klaster infeksi di ruang tertutup tersebut.
"Pola penyebaran virus di kapal menunjukkan kemungkinan penularan antarpenumpang yang memiliki kontak dekat," kata Dr. Maria Van Kerkhove, Pejabat Teknis WHO. Penemuan ini memicu kekhawatiran karena Hantavirus biasanya hanya menyebar melalui perantara hewan pengerat.
Hantavirus umumnya menular ke manusia lewat kontak dengan kotoran, urine, atau air liur tikus yang terinfeksi. Infeksi sering terjadi ketika seseorang menghirup partikel udara yang terkontaminasi di lingkungan kotor, sebagaimana dilaporkan oleh Gizmodo dan CDC.
Virus ini diketahui memicu dua kondisi medis berat, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Gejala awal meliputi demam, nyeri otot, dan kelelahan, yang dapat berkembang menjadi sesak napas akut.
Para ahli kesehatan menyoroti bahwa penularan antarmanusia untuk jenis Hantavirus sangat jarang terjadi di luar varian virus Andes. WHO saat ini fokus mengidentifikasi jenis virus spesifik guna memastikan protokol penanganan lebih lanjut di atas kapal MV Hondius.
Langkah pencegahan utama mencakup penghindaran kontak dengan hewan pengerat dan menjaga sterilitas lingkungan. Hingga saat ini, belum tersedia vaksin khusus untuk Hantavirus sehingga penanganan medis bergantung sepenuhnya pada perawatan suportif organ tubuh.