Xiaomi mengambil pendekatan yang berbeda dari pesaingnya saat meluncurkan Xiaomi 17 dan 17 Ultra di Eropa. Alih-alih menonjolkan kecerdasan buatan (AI), perusahaan asal China ini justru minim menyinggung AI, bahkan ketika memamerkan kemampuan kamera edisi khusus 17 Ultra hasil kolaborasi dengan Leica.
Menurut Angus Ng, Director of Communications and Public Relations Xiaomi, keputusan ini memang disengaja. "Kami masih fokus pada batasan hardware," ujarnya saat ditemui di MWC 2026, seperti dikutip detikINET dari The Verge, Jumat (6/3/2026).
Ng menjelaskan bahwa inovasi Xiaomi saat ini masih bertumpu pada pengembangan sensor dan sistem pencitraan secara fisik. Pendekatan ini berbeda dengan pemrosesan berbasis AI yang agresif seperti yang dilakukan kompetitor.
"Saat nanti mencapai titik dimana kami tidak punya inovasi lain, maka kami juga akan mulai menggarap di sisi software," tambahnya.
Ng mengakui bahwa Xiaomi tetap menggunakan pemrosesan software dan AI dalam sistem kameranya, tetapi pendekatan tersebut tidak terlalu ditonjolkan dalam strategi pemasaran. "Kami memang punya AI dalam sistem imaging kami, tapi tidak sejelas Samsung," katanya.
Xiaomi bahkan sempat menekankan AI dalam strategi kameranya satu hingga dua tahun lalu, namun respons pasar dinilai kurang positif.
Ng juga menyinggung strategi Samsung yang terlihat sangat agresif dalam mendorong fitur AI, terutama dalam peluncuran Galaxy S26 terbaru. Menurutnya, ada kemungkinan fokus itu muncul karena inovasi hardware yang tidak banyak berubah.
"Karena hardware mereka tidak banyak peningkatan, jadi mereka fokus ke software," ujarnya. Komentar ini dapat diartikan sebagai sindiran halus terhadap strategi Samsung, yang dalam beberapa generasi terakhir memang lebih menonjolkan fitur AI seperti generative editing, AI zoom, dan pemrosesan foto berbasis machine learning.