Xiaomi Corporation resmi merilis laporan Environmental, Social, and Governance (ESG) tahun 2025 pada Rabu (13/5/2026) yang mengintegrasikan teknologi inti dengan prinsip keberlanjutan. Perusahaan mempertegas dedikasi pada ekosistem Human x Car x Home melalui investasi riset dan pengembangan (R&D) sebesar RMB33,1 miliar.
Dilansir dari Medcom, laporan tersebut mencatat dukungan lebih dari 25.000 personel riset yang telah memperkenalkan tiga model kecerdasan buatan (AI) mandiri, yakni MiMo-V2-Pro, MiMo-V2-Omni, dan MiMo-V2-TTS. Pengembangan AI ini mengadopsi pedoman Uni Eropa untuk memastikan aspek keadilan dan inklusivitas.
Pada sektor keamanan data, Xiaomi memperoleh sertifikasi ISO 27001 untuk seluruh fasilitas operasi teknisnya guna melindungi informasi sensitif. Melalui sistem operasi MiTEE, data biometrik dan kunci digital kendaraan tetap tersimpan secara lokal tanpa meninggalkan sistem perangkat.
Transparansi operasional juga ditunjukkan melalui pemrosesan permintaan subjek data (DSRs) secara global yang selesai dalam waktu 15 hari. Standar ini diklaim lebih cepat dibandingkan ketentuan yang ditetapkan dalam regulasi perlindungan data umum (GDPR).
Xiaomi turut menerapkan prinsip ekonomi sirkular 3R (Reduce, Reuse, Recycle) pada lini produk smartphone terbarunya. Komponen mid-plate pada seri Xiaomi 15T dan Redmi K90 kini menggunakan 100 persen aluminium daur ulang sebagai bentuk efisiensi material.
Di lini otomotif, kendaraan listrik seri Xiaomi SU7 menggunakan hingga 19 persen aluminium daur ulang, sedangkan seri YU7 mencapai 14,2 persen. Perusahaan juga berhasil mendaur ulang lebih dari 2 juta smartphone bekas di 24 negara melalui program trade-in sepanjang tahun 2025.
Komitmen terhadap manajemen energi dibuktikan dengan sertifikasi ISO 50001 untuk Xiaomi Smart Factory dan Xiaomi EV Factory. Teknologi pemulihan panas Xiaomi HyperCasting di pabrik kendaraan listrik diklaim mampu menghemat konsumsi listrik hingga jutaan kWh per tahun.
Hingga saat ini, Xiaomi mencatat kenaikan transaksi listrik hijau sebanyak sepuluh kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Perusahaan menargetkan penggunaan panel surya dapat memenuhi 15 persen dari total kebutuhan energi tahunan pada tahun 2026 mendatang.