Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang melemah memicu kekhawatiran pelaku industri telekomunikasi karena berpotensi menaikkan biaya investasi. Dampak eksternal ini diantisipasi oleh manajemen XLSmart melalui sejumlah strategi efisiensi biaya serta penguatan struktur keuangan perusahaan pada Selasa (19/5/2026).
Kebutuhan perangkat penunjang telekomunikasi saat ini masih sangat bergantung pada komponen impor. Komponen-komponen tersebut dibeli menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat, seperti dilansir dari Detik iNET.
"Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS merupakan salah satu faktor eksternal yang turut menjadi perhatian industri telekomunikasi, mengingat sebagian kebutuhan investasi jaringan dan perangkat telekomunikasi masih menggunakan komponen impor dan berdenominasi dolar AS," ujar Reza Mirza, Group Head Corporate Communication & Sustainability XLSmart.
Kondisi keuangan internal saat ini diklaim masih aman karena pendapatan terbesar didapat dalam bentuk rupiah. Seluruh pembiayaan dan operasional harian juga menggunakan mata uang lokal.
"Seluruh pinjaman perusahaan saat ini juga menggunakan denominasi rupiah sehingga eksposur langsung terhadap fluktuasi kurs relatif terbatas," kata Reza Mirza, Group Head Corporate Communication & Sustainability XLSmart.
Langkah taktis yang ditempuh meliputi efisiensi pasca-merger, disiplin anggaran belanja modal, hingga renegosiasi kerja sama dengan vendor. Struktur pembiayaan yang sehat terus dipertahankan demi menekan risiko kerugian finansial jangka panjang.
"Perusahaan terus menjaga struktur pembiayaan tetap sehat, dimana seluruh pinjaman perusahaan saat ini menggunakan denominasi rupiah sehingga dapat meminimalkan risiko langsung terhadap kinerja keuangan akibat fluktuasi kurs," ujar Reza Mirza, Group Head Corporate Communication & Sustainability XLSmart.