Shivon Zilis, eksekutif di perusahaan milik Elon Musk, memberikan kesaksian dalam persidangan gugatan hukum terhadap OpenAI pada awal Mei 2026. Kesaksian tersebut menyoroti peran ganda Zilis sebagai perantara komunikasi antara Musk dan para pemimpin OpenAI sebelum hubungan keduanya retak.
Dilansir dari Detik iNET, Zilis mengungkapkan bahwa perannya di dewan direksi OpenAI sempat menjadi titik krusial dalam arus informasi teknologi. Ia bertindak sebagai jembatan hingga Musk akhirnya mendirikan perusahaan pesaing, xAI, pada tahun 2023.
Gugatan yang diajukan Musk menuduh OpenAI dan jajaran pimpinannya telah melakukan penipuan dan melanggar misi nirlaba demi keuntungan pribadi. Zilis yang awalnya merupakan penggugat bersama dalam kasus ini, memilih untuk mundur dari posisi tersebut di tengah proses hukum.
OpenAI membantah keras tuduhan tersebut dan balik menuding bahwa Zilis mengetahui rencana Musk meluncurkan entitas pesaing saat masih menjabat di dewan. Pesan teks Zilis kepada rekannya menunjukkan ia harus mundur karena upaya kompetitif Musk telah diketahui publik.
"Ketika ayah dari bayi-bayimu memulai upaya yang kompetitif dan akan merekrut dari OpenAI, tidak ada yang bisa dilakukan," ujar Shivon Zilis, Mantan Anggota Dewan OpenAI dalam bukti pesan yang dihadirkan di persidangan.
Presiden OpenAI Greg Brockman menyatakan bahwa dewan mengizinkan Zilis bertahan karena ia mengaku hubungannya dengan Musk hanya bersifat platonis. Brockman menegaskan pihak manajemen tidak menyadari adanya hubungan asmara antara Zilis dan miliarder tersebut pada saat itu.
Zilis pertama kali bertemu Musk pada 2016 sebagai penasihat di OpenAI sebelum menjabat posisi senior di Tesla dan Neuralink. Ia mengaku memiliki empat anak bersama Musk melalui proses bayi tabung yang dimulai sejak tahun 2021.
Dalam kesaksiannya, Zilis membantah bahwa hubungan pribadinya memengaruhi keputusannya di dewan, termasuk saat ia mendukung investasi Microsoft senilai USD 10 miliar. Namun, ia mengaku pandangannya berubah setelah melihat perubahan struktur organisasi OpenAI yang dinilai kehilangan misi kemanusiaannya.
Gugatan ini berpotensi memaksa OpenAI kembali ke struktur nirlaba dan mencopot Sam Altman serta Greg Brockman dari jajaran direksi jika Musk memenangkan perkara. Saat ini, proses hukum masih berlanjut dengan agenda pemeriksaan bukti tambahan dari kedua belah pihak.