Pada lima dekade lalu, Steve Wozniak membawa gagasan revolusioner mengenai komputer pribadi kepada atasannya di Hewlett-Packard. Ide ini sayangnya mendapat penolakan berulang kali, tepatnya hingga lima kali. “Lima kali mereka menolakku untuk komputer pribadi itu. Aku ingin HP yang mengerjakannya. Aku mencintai perusahaanku, tapi kemudian aku dan Steve Jobs harus berbisnis sendiri,” kenang Wozniak, dikutip dari The Times.
Keputusan tersebut secara signifikan membentuk sejarah teknologi dunia. Pada tanggal 1 April 1976, Wozniak dan Steve Jobs, yang saat itu masih berusia 20-an, bersama Ron Wayne, mendirikan Apple di garasi keluarga Jobs. Tidak ada yang menduga bahwa perusahaan kecil tersebut akan tumbuh menjadi salah satu entitas paling berpengaruh dan berharga di dunia.
Saat ini, tepat di usia ke-50, Apple telah bertransformasi menjadi sebuah raksasa teknologi dengan skala yang sulit dibayangkan. Nilai pasar perusahaan mencapai USD 3,5 triliun, atau sekitar Rp 64 triliun. Angka ini menempatkan Apple sebagai perusahaan terbesar kedua di dunia, setelah Nvidia. Dilansir dari Detik iNET, pada tahun fiskal yang berakhir September lalu, Apple mencatatkan pendapatan USD 416 miliar (Rp 6.656 triliun) serta laba bersih sebesar USD 112 miliar (Rp 1.792 triliun).
Lebih dari 2,5 miliar perangkat Apple kini aktif digunakan secara global. Kantor pusat perusahaan yang berbentuk cincin raksasa berdiri megah di Cupertino, California, didukung oleh sekitar 166.000 karyawan. “Apple bukan sekadar perusahaan teknologi. Ini benar-benar ikon budaya,” ujar Jacob Bourne, seorang analis teknologi dari eMarketer, seperti dikutip dari LA Times.
Perjalanan Penuh Ujian yang Menguatkan Apple
Jalan menuju puncak kesuksesan Apple tidak selalu mulus. Pada tahun 1985, Jobs sempat meninggalkan Apple setelah berselisih dengan dewan direksi dan CEO saat itu, John Sculley. Kemudian, pada era 1990-an, Apple bahkan harus memecat sepertiga karyawannya dan nyaris bangkrut. Jobs akhirnya kembali dan berhasil menyelamatkan perusahaan yang ia dirikan.
Titik balik kebangkitan Apple mencapai puncaknya pada tahun 2007 dengan peluncuran iPhone. Perangkat ini secara permanen mengubah industri smartphone, menyapu bersih BlackBerry dan pesaing lainnya. Namun, ujian terberat menimpa Apple pada tahun 2011, ketika Jobs meninggal dunia akibat kanker pankreas di usia 56 tahun. Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai masa depan perusahaan.
Tongkat kepemimpinan kemudian beralih ke tangan Tim Cook, yang secara resmi ditunjuk sebagai CEO pada 24 Agustus 2011, hanya enam minggu sebelum Jobs wafat. Di awal masa kepemimpinannya, dunia bisnis dan teknologi sempat terbelah pendapatnya. Keraguan muncul apakah manajer andal seperti Cook mampu meneruskan tradisi inovasi Apple seberhasil Jobs yang karismatik, terutama karena Apple belum meluncurkan produk baru saat itu. Banyak pihak khawatir Cook tidak memiliki gaya visioner yang berani seperti Jobs. Cook sendiri mengakui, “Saya belajar perbedaan nyata antara persiapan dan kesiapan.”
Namun, keraguan tersebut perlahan terbantahkan. Meskipun Cook mungkin tidak menandingi visi Jobs, ia dijuluki sebagai maestro dalam operasi bisnis. Gaya kepemimpinannya sangat berbeda dari pendahulunya, cenderung lebih tenang, kolaboratif, dan tidak terlalu campur tangan dalam detail teknis produk.
Hasilnya terbukti dari pencapaiannya. Sejak mengambil alih pada 2011 hingga 2020, Cook berhasil melipatgandakan pendapatan dan laba Apple. Nilai pasar perusahaan juga melonjak signifikan, dari USD 348 miliar menjadi USD 1,9 triliun. Hingga saat ini, kapitalisasi pasar Apple terus meroket hingga mencapai Rp 64 triliun. Di bawah kepemimpinan Cook, Apple juga memperluas cakrawalanya dengan meluncurkan Apple Watch pada 2015, menghadirkan layanan streaming Apple TV+, dan membangun ekosistem layanan yang kini menjadi mesin pendapatan baru bagi perusahaan.
Rahasia Kesuksesan Abadi Apple
Wozniak mengungkapkan bahwa kunci ketahanan Apple selama lima dekade terletak pada pengelolaan merek yang baik dan komitmen perusahaan untuk tidak pernah menghasilkan produk murahan yang mudah rusak. “Apple selalu fleksibel,” katanya. “Sekarang kita punya begitu banyak jalur—dari berbagai perangkat, AirPods, dan seterusnya.”
David Pogue, seorang jurnalis sekaligus penulis buku “Apple: The First 50 Years”, menggambarkan budaya kerja di dalam Apple melampaui standar biasa. “Setiap perusahaan mengklaim berusaha mencapai keunggulan. Itu hanya klise. Tapi masuk ke dalam Apple dan berbicara dengan orang-orangnya—itu hampir seperti sebuah mania. Sangat intens,” tutur Pogue.
Perayaan Setengah Abad dan Tantangan ke Depan
Apple merayakan pencapaian bersejarah ini dengan gaya khas perusahaan yang penuh kemewahan. Awal Maret lalu, Apple mengadakan konser kejutan bersama Alicia Keys di Apple Grand Central, New York. Perayaan serupa juga digelar di berbagai penjuru dunia, termasuk China, Korea, Thailand, hingga Meksiko. Di Sydney, Australia, Apple berkolaborasi dengan seniman untuk menyinari Opera House dengan karya seni yang dirancang menggunakan iPad. “Melalui setiap terobosan, satu gagasan selalu membimbing kami—bahwa dunia didorong maju oleh mereka yang berpikir berbeda,” tulis CEO Tim Cook dalam surat terbukanya merayakan momen ini.
Meskipun demikian, di usianya yang ke-50, Apple tidak luput dari tekanan. Dalam persaingan kecerdasan buatan (AI), perusahaan ini masih dianggap tertinggal dari para kompetitornya. Meskipun sahamnya naik lebih dari 55% dalam tiga tahun terakhir, indeks Nasdaq Composite tumbuh lebih dari 75% dalam periode yang sama. Pertanyaan mengenai kapan Tim Cook, yang kini berusia 65 tahun, akan pensiun juga terus mengemuka. Namun, para analis tetap optimistis. “Saya melihat Apple mampu melewati tekanan-tekanan saat ini, setidaknya untuk masa mendatang yang dapat diperkirakan,” kata Bourne. Dari garasi kecil di California hingga hadir di hampir setiap saku di seluruh dunia, Apple membuktikan bahwa penolakan awal bisa menjadi titik awal menuju sesuatu yang jauh lebih besar.