5G Dorong Adopsi AI di Indonesia dan Tingkatkan Efisiensi Jaringan

Integrasi kecerdasan buatan (AI) dalam jaringan seluler mendesak untuk keandalan infrastruktur digital. 5G jadi fondasi utama AI di Indonesia.

Integrasi kecerdasan buatan (AI) ke dalam jaringan seluler menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga keandalan infrastruktur digital nasional. Pemanfaatan AI ini sangat penting seiring ambisi Indonesia untuk menjadi hub AI di Asia Tenggara, meskipun infrastruktur 5G masih perlu akselerasi signifikan.

Ronni Nurmal, Head of Government & Industry Relations Ericsson Indonesia, menjelaskan bahwa konsep "AI for Network" berfokus pada optimasi operasional internal jaringan menggunakan kecerdasan buatan. Salah satu inovasi utamanya adalah pemeliharaan prediktif, yang memungkinkan operator mengidentifikasi potensi kerusakan pada perangkat radio.

Ronni mengemukakan, Ericsson telah menanamkan AI pada sistem radio yang digunakan operator untuk memantau berbagai gejala teknis. Dengan kemampuan ini, kerusakan pada perangkat radio dapat diprediksi satu hingga dua minggu sebelumnya, sehingga memungkinkan penggantian proaktif dan mengurangi risiko gangguan sinyal bagi pelanggan.

Inovasi AI juga mencakup optimasi perangkat lunak dan manajemen operasional secara menyeluruh, yang berpotensi menghasilkan penghematan biaya operasional signifikan bagi operator seluler. Proses pemeliharaan menjadi lebih efisien dan terukur berkat intervensi AI.

Selain mengoptimalkan jaringan dari dalam, tantangan berikutnya adalah membangun "Network for AI". Fenomena pesatnya perkembangan AI saat ini telah mengubah pola konsumsi data masyarakat. Aplikasi berbasis AI, terutama yang multimodal (menggabungkan teks, gambar, video, dan suara), memerlukan karakteristik jaringan yang spesifik, seperti latensi rendah, kecepatan tinggi, dan performa uplink yang kuat.

Ronni menekankan, jaringan harus didefinisikan ulang untuk mendukung beban kerja AI, khususnya ketika pengguna mengakses aplikasi di luar rumah. Data Consumer Lab memprediksi sekitar 46% pengguna di Indonesia akan mengakses aplikasi AI saat bepergian, komuter, atau di tempat umum pada tahun 2030. Ini menuntut operator untuk menyediakan performa jaringan yang konsisten dan merata di seluruh area, tidak hanya di perkantoran atau pemukiman.

Tren global menunjukkan pergeseran identitas di industri telekomunikasi, di mana perusahaan penyedia konektivitas bertransformasi menjadi perusahaan teknologi atau bahkan perusahaan AI. Transformasi ini wajar mengingat kompetisi dalam mendapatkan nilai tambah melalui digitalisasi. Namun, Ronni mengingatkan bahwa status sebagai perusahaan AI tidak akan berarti banyak tanpa tulang punggung konektivitas yang kuat.

Dikutip dari Medcom, Indonesia memiliki visi besar Indonesia Emas 2045 untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Pencapaian target ini sangat bergantung pada fondasi infrastruktur digital yang mumpuni, dengan 5G sebagai pilar utamanya.

Ericsson Mobility Report menunjukkan bahwa kawasan Asia Tenggara dan Oseania masih tertinggal dalam penetrasi 5G, dengan hanya sekitar 14% langganan 5G saat ini. Angka ini jauh di bawah wilayah seperti Amerika Utara (79%) atau Asia Timur Laut (61% pada 2025). Meskipun Ericsson memprediksi penetrasi 5G di Asia Tenggara akan melonjak hingga 56% pada tahun 2031, Indonesia perlu berakselerasi untuk bersaing dengan negara tetangga.

Bertahan di teknologi 4G di tengah ledakan trafik data akan memakan biaya investasi yang lebih besar bagi operator, karena 5G memiliki efisiensi spektral yang lebih tinggi. Dengan spektrum luas, biaya per gigabyte (cost per GB) dapat turun signifikan hingga 70-80%, menciptakan layanan lebih terjangkau.

Dalam dinamika geopolitik global, kedaulatan digital sangat sensitif. Ronni Nurmal juga menegaskan pentingnya Indonesia untuk memiliki akses ke berbagai ekosistem teknologi, baik dari Barat maupun Timur, tanpa bergantung pada satu mitra atau negara tertentu. Diversifikasi vendor dan akses ke ekosistem global yang terbuka menjadi kunci untuk memitigasi risiko gangguan pada infrastruktur nasional, yang kini esensial bagi kehidupan masyarakat.

Dilansir dari Katadata, laporan Ericsson ConsumerLab 2026 mengungkapkan bahwa adopsi AI mengubah pola penggunaan data seluler, di mana pengguna semakin aktif menciptakan konten interaktif. Hal ini meningkatkan kebutuhan kapasitas uplink dan kecepatan respons AI.

Pada 2030, pengguna AI di luar smartphone dan laptop diproyeksikan meningkat dua kali lipat, mencakup perangkat seperti smartwatch, kacamata pintar, hingga asisten kendaraan pintar. Ini menuntut performa jaringan yang konsisten di mana pun.

Saat ini, setidaknya 20% orang Indonesia menggunakan AI multimodal setiap hari, angka yang diprediksi meningkat menjadi 41% pada 2030. Dengan berbagai perkembangan ini, jaringan 5G tidak hanya mendukung pengalaman digital imersif seperti AR/VR, tetapi juga menjadi infrastruktur strategis bagi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia dan fondasi menuju pengembangan jaringan 6G di masa depan.

Recommended