Profesi AI engineer menjadi sorotan utama di industri teknologi global. Pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) memicu peningkatan permintaan akan tenaga ahli di bidang ini.
Steven Sukma Limanus, Ilham Firdausi Putra, dan Reynaldo Wijaya Hendry, tiga developer asal Indonesia, berhasil meraih juara kedua dalam ajang OpenAI Codex Hackathon di Singapura. Proyek AI mereka, GambitHunter, dirancang untuk mengidentifikasi situs judi online.
Perjalanan mereka di dunia AI bermula dari pendidikan teknologi di kampus, berlanjut dengan pengalaman membangun proyek, hingga akhirnya berkarier di industri teknologi global.
Ketiganya memiliki latar belakang pendidikan teknologi, termasuk dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Steven dan Ilham adalah alumni teknik informatika ITB, sementara Rey menempuh pendidikan di Batam.
Selama kuliah, mereka mempelajari dasar-dasar ilmu komputer seperti algoritma, struktur data, dan pemrograman. Ilham bahkan aktif mengikuti lebih dari 20 kompetisi hackathon.
"Memang hobi. Setelah lulus tentu saja frekuensinya berkurang, namun akhir-akhir ini jadi tertarik lagi dikarenakan munculnya coding agent atau tools seperti OpenAI Codex yang membuat proses pengembangan menjadi lebih mudah," ujar Ilham.
Pengalaman di kampus menjadi fondasi penting sebelum mendalami machine learning dan kecerdasan buatan.
Menurut Steven Sukma Limanus, rasa ingin tahu terhadap teknologi seringkali menjadi awal mula perjalanan menjadi developer. "Yang penting terus eksplorasi dan membangun sesuatu. Dari situ kita bisa belajar banyak," ujar Steven yang kini bekerja sebagai software engineer di Razer, fokus pada pengembangan produk AI.
Pertemuan mereka bertiga berawal saat bekerja di Shopee Singapore dan tinggal berdekatan. Mereka kemudian memutuskan untuk mengikuti hackathon bersama.
Keterampilan Penting untuk AI Engineer
Seiring perkembangan AI, ada beberapa keterampilan penting yang perlu dikuasai developer. Kemampuan programming, terutama bahasa seperti Python yang banyak digunakan dalam pengembangan AI, adalah salah satunya. Pemahaman mengenai machine learning juga menjadi bekal penting untuk membangun sistem berbasis kecerdasan buatan.
Menurut Ilham Firdausi Putra yang kini bekerja di perusahaan quantitative trading, developer harus terus belajar teknologi baru seiring dengan pesatnya perkembangan AI. "Kami melihat teknologi AI berkembang sangat pesat akhir-akhir ini. Setiap major AI lab seperti OpenAI, Anthropic, DeepMind, dan Mistral semuanya mengadakan hackathon dalam 4 minggu terakhir. Developer harus terus mencoba tools dan pendekatan baru," kata Ilham.
Ia juga membangun Pasal.id, sebuah antarmuka untuk mengindeks dan mengurai seluruh peraturan perundangan di Indonesia yang selama ini terkunci dalam format PDF, menjadi sesuatu yang terhubung dengan AI, mudah dicari dan dijelajahi lewat handphone.
Selain kemampuan teknis, kemampuan problem solving juga menjadi faktor penting karena AI engineer harus mampu merancang solusi teknologi untuk berbagai persoalan yang kompleks. Bagi Rey yang baru pertama kali mengikuti hackathon, pengalaman ini membuka wawasan baru.
"Ini pengalaman pertama saya untuk mengikuti hackathon. Sejujurnya sangat excited tapi juga cukup grogi," aku Reynaldo Wijaya Hendry yang kini bekerja di GovTech Singapore.
Karier di Industri Teknologi Global
Setelah menyelesaikan pendidikan, ketiganya meniti karier di berbagai perusahaan teknologi. Steven Sukma Limanus bekerja sebagai engineer di Razer, Ilham Firdausi Putra berkarier di sektor teknologi finansial melalui perusahaan quantitative trading di Singapura, dan Reynaldo Wijaya Hendry bekerja di sektor teknologi pemerintahan melalui GovTech Singapore.
Pengalaman bekerja di berbagai sektor teknologi membantu mereka memahami bagaimana AI dapat digunakan untuk menyelesaikan berbagai masalah nyata, termasuk dalam proyek GambitHunter.
Menurut Steven, AI membuka peluang untuk menyelesaikan masalah secara lebih efektif. "Kita bisa melihat di sekeliling, apa menurutmu hal yang bisa AI bantu untuk permasalahan itu dan dengan speed of delivery yang di-enabled AI saat ini. Kami melihat ada opportunity menarik di judol, tapi kami yakin masih banyak problem lain yang bisa diperbaiki," tuturnya.
Ketiganya juga berpesan kepada generasi muda Indonesia untuk tidak takut mencoba hal baru. Steven menekankan bahwa tools seperti AI justru membantu "meratakan lapangan bermain" bagi developer dari berbagai negara.
"Jangan takut mencoba, dari sudut pandang saya malah tools seperti AI sebenarnya sangat membantu untuk leveling the playing field. Jadi mindset-nya harus melihat ini lebih sebagai opportunity," kata Steven.
Ilham menambahkan bahwa perkembangan AI saat ini membuka peluang besar bagi talenta teknologi dari berbagai negara, termasuk Indonesia. "Orang Indonesia tidak kalah bersaing! Ikut saja, dan ikut sebanyak-banyaknya. Sekarang adalah saat yang sangat seru untuk kembali ikut berkompetisi, membangun produk, dan mengeksplorasi tools baru," ujarnya.
Sementara Rey berpesan agar generasi muda tidak menunggu sampai benar-benar siap. "Jangan takut untuk mencoba dan lebih seringlah eksplorasi. Jika ada ide, langsung implementasi! Jangan tunggu siap karena kalian tidak akan pernah siap," pesan Rey.
Ilham berharap GambitHunter dapat membantu memberantas judi online, khususnya bagi korban dan keluarga yang khawatir. "Kami memahami ini adalah masalah yang sangat serius dan berdampak nyata ke banyak keluarga di Indonesia. Kami berharap GambitHunter bisa menjadi salah satu alat bantu dalam upaya memberantas judi online ini," ungkapnya.
Ia juga melihat bahwa AI membuka peluang besar untuk solusi hyperlocal. "Selama ini, biaya membuat software itu mahal, sehingga banyak masalah lokal yang 'terlalu kecil' untuk diselesaikan secara digital. Sekarang dengan AI, biaya pengembangan jauh lebih murah, dan masalah-masalah lokal yang dulu tidak feasible untuk ditackle, sekarang menjadi mungkin. GambitHunter dan Pasal.id adalah salah satu contohnya," pungkas Ilham.
Kombinasi antara pendidikan teknologi, kemauan belajar, dan keberanian bereksperimen membuka jalan menuju karier di industri AI global.