Kehadiran kecerdasan buatan (AI) justru meningkatkan kebutuhan akan kemampuan berbahasa Inggris di dunia kerja. Hal ini terungkap dalam TOEIC Global English Skills Report oleh Educational Testing Service (ETS) yang diadakan di Jakarta.
Janet Garcia, President ETS, menyatakan bahwa data survei membantah anggapan bahwa AI akan menggantikan kebutuhan berbahasa Inggris. Justru, kemampuan berbahasa Inggris semakin dibutuhkan agar manusia dapat berkomunikasi dengan jelas, mengevaluasi informasi, dan berkolaborasi secara efektif.
"Data ini memotong hiruk-pikuk spekulasi tentang AI. AI tidak menggantikan bahasa Inggris. Kemampuan ini tetap dibutuhkan agar manusia bisa berkomunikasi dengan jelas, mengevaluasi informasi, dan berkolaborasi secara efektif melalui perintah (prompt) yang tepat," tegas Janet di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Senin, 9 Maret 2026.
Laporan tersebut, yang mensurvei 1.300 profesional HR di 17 negara, menekankan bahwa bahasa Inggris merupakan kemampuan bisnis yang sangat penting.
Ratnesh Kumar Jha, General Manager Institutional Language Products ETS, menyoroti bahwa di Indonesia, kemahiran berbahasa Inggris jauh lebih penting dibandingkan lima tahun lalu. Bahkan, 100 persen profesional HR yang disurvei di Indonesia menyatakan hal tersebut.
"Di Indonesia, 100 persen profesional HR yang kami survei menyatakan bahwa kemahiran bahasa Inggris jauh lebih penting saat ini dibandingkan dengan lima tahun lalu," ujar Ratnesh.
Angka ini menunjukkan ambisi Indonesia untuk lebih kompetitif di rantai pasok global dan jaringan bisnis internasional.
Laporan tersebut juga mencatat bahwa lebih dari 87 persen responden percaya karyawan yang tidak mahir berbahasa Inggris akan dirugikan secara profesional.
Selain itu, 91 persen responden meyakini standarisasi kemampuan bahasa Inggris melalui tes seperti TOEIC akan meningkatkan mobilitas tenaga kerja Indonesia ke luar negeri.
ETS memperkenalkan TOEIC Link, solusi asesmen daring modular yang memberikan hasil real-time untuk membantu perusahaan mempercepat proses rekrutmen, pelatihan, dan peningkatan keterampilan karyawan.
Laporan ini diharapkan menjadi acuan bagi para pendidik, pembuat kebijakan, dan pemimpin perusahaan untuk terus memperkuat daya saing SDM Indonesia di kancah global. (Talitha Islamey)