Era kecerdasan buatan (AI) dalam peperangan tampaknya telah tiba. Israel dilaporkan telah menggunakan sistem AI di Gaza untuk menandai target potensial dan memprioritaskan operasi. Sementara itu, militer Amerika Serikat juga dilaporkan menggunakan model AI buatan Anthropic, Claude, dalam operasi penculikan Nicolas Maduro dari Venezuela.
Bahkan setelah Anthropic berselisih dengan pemerintah AS mengenai penggunaan AI dalam peperangan, militer AS dilaporkan tetap menggunakan Claude dalam serangan ke Iran. Para ahli berpendapat bahwa sangat mungkin rudal-rudal yang ditembakkan di atas Teheran ditargetkan oleh sistem yang ditenagai oleh AI.
Craig Jones, dosen senior geografi politik Universitas Newcastle, menyatakan bahwa AI mengubah sifat peperangan modern di abad ke-21 dan dampaknya sulit untuk dilebih-lebihkan. Ia menambahkan bahwa ini adalah skenario yang berpotensi sangat mengerikan.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengirim memo kepada pimpinan militer awal tahun ini yang menginstruksikan Departemen Perang untuk mempercepat dominasi AI militer Amerika dengan menjadi kekuatan tempur yang mengutamakan AI di semua komponen, dari garis depan hingga belakang. Ini adalah perintah untuk mengadopsi AI dengan cepat dan dalam skala besar.
Era AI ini bukan berarti ada robot pembunuh di medan perang karena belum sampai ke taraf itu. Menurut David Leslie, profesor teknologi Queen Mary University of London, sistem tempat AI ditanamkan, yang dalam jargon militer disebut sistem pendukung keputusan, berfungsi sebagai penasihat yang menandai target, memeringkat ancaman, dan menyarankan prioritas. "Kita belum berada di era Terminator," kata Leslie.
Sistem AI dapat mengumpulkan citra satelit, sadapan komunikasi, data logistik, hingga aliran media sosial lalu memunculkan pola jauh lebih cepat dari tim manusia mana pun. AI berpotensi lebih akurat dari tentara manusia yang lelah, kewalahan, dan stres. AI menjadi cara baru mengambil keputusan.
Menurut seorang sumber, AI memberikan stabilitas untuk bertindak atas data pengawasan yang dikumpulkan, untuk membunuh pemimpin Iran serta melumpuhkan lawan dan musuh yang serius, serta menemukan mereka dengan cara-cara mustahil yang mungkin belum pernah ditemukan sebelumnya.
Leslie sepakat bahwa sistem baru ini sangat mumpuni dari perspektif militer. Adopsi ini didorong oleh perlombaan akan kecepatan. Mempercepat siklus pengambilan keputusan adalah hal yang membawa keuntungan militer berupa daya bunuh.
Bahaya AI di Militer
Dalam sistem pendukung keputusan ini, AI tidak menekan tombolnya, manusia yang melakukannya. Namun bahkan dengan campur tangan manusia, pertanyaan tetap tertinggal. Bisakah manusia benar-benar memeriksa tiap keputusan AI saat medan perang?
Ketika waktu mendesak dan informasi tidak lengkap, apa sebenarnya arti pengawasan manusia? Terlebih, AI cenderung menghasilkan informasi meyakinkan walau sebenarnya tidak selalu akurat.
Jones berpendapat bahwa secara teknis, manusia memang ada, tetapi itu tidak berarti mereka cukup terlibat untuk memiliki kekuatan pengambilan keputusan efektif dan pengawasan yang tepat atas apa yang sebenarnya terjadi. AI adalah alat sangat persuasif bagi para pengambil keputusan.
Timbul juga pertanyaan tentang kerentanan AI terhadap kesalahan. AI biasanya menebak apa yang paling mungkin terjadi berdasarkan data masa lalu. Penalaran statistik itu memang efektif, tetapi beberapa lingkungan tempur pada dasarnya sangat tidak dapat diprediksi dan berisiko tinggi.