Penggunaan kecerdasan buatan (AI) telah mengubah lanskap perang modern, seperti yang terlihat dalam konflik Iran. Berbeda dengan film Terminator yang menampilkan AI melawan manusia, kini manusia memanfaatkan AI dalam peperangan.
Amerika Serikat dan Israel semakin mengandalkan AI dalam sistem pertahanan mereka. Admiral Brad Cooper, Kepala Central Command (Centcom) AS, memuji efektivitas AI dalam operasi militer. Dalam operasi Epic Fury, AI memandu pengeboman 5.500 titik di Iran hingga 11 Maret 2026, dengan 1.000 target dihancurkan dalam 24 jam pertama.
Menurut Admiral Brad Cooper, "Manusia akan selalu membuat keputusan akhir apa yang ditembak dan apa yang tidak ditembak. Tapi AI yang canggih membantu proses yang tadinya berjam-jam atau berhari-hari menjadi tinggal hitungan detik saja."
Meskipun dicekal oleh Menteri Perang AS Pete Hegstesh, teknologi AI tetap digunakan dalam Perang Iran. Hal ini terjadi setelah perusahaan Anthropic menolak model AI Claude mereka digunakan oleh Pentagon untuk persenjataan otonom dan pengawasan massal.
Militer AS juga memanfaatkan Maven Smart System dari Palantir, yang digunakan untuk 'kill chain', yaitu proses survei, pengumpulan intelijen, seleksi, dan penyerangan target. Dr Heidy Khlaaf, Kepala Ilmuwan AI di AI Now Institute, menjelaskan bahwa AI meningkatkan efektivitas dan efisiensi perang. Unit yang dioperasikan 20 orang, dengan bantuan teknologi seperti Maven, Anthropic dan Palantir, mampu melakukan pekerjaan setara dengan 2.000 orang.
Khlaaf mengkhawatirkan potensi bias otomasi, di mana manusia cenderung menyetujui saran dari sistem AI, bahkan dalam konteks militer. Ia menambahkan, "Ada bias otomasi, kecenderungan manusia untuk setuju dengan saran yang dibuat oleh sistem otomasi seperti AI. Pengawasan pada praktiknya cuma pura-pura apalagi di ruang militer dimana bias otomasi adalah yang terburuk. Manusia cuma jadi cap stempel."
Sistem senjata otonom, yang mampu memilih target tanpa campur tangan manusia, memunculkan kekhawatiran tentang sejauh mana Pentagon mendorong penggunaan AI tanpa batasan dalam meluncurkan serangan. Israel juga menggunakan sistem AI bernama Habsora untuk merekomendasikan target serangan di Gaza.
Tingkat akurasi AI menjadi sorotan, terutama karena Generative AI memiliki akurasi serendah 50%. "Satu model mesti menganalisi miliaran data. Bagaimana kamu tahu erornya datang dari mana," kata Khlaaf.