Maskapai AirAsia menegaskan komitmennya untuk mempertahankan harga tiket agar tetap terjangkau oleh masyarakat. Hal ini disampaikan di tengah berbagai tekanan yang melanda industri penerbangan global, terutama dampak ketidakpastian di kawasan Timur Tengah.
Situasi saat ini memang penuh tantangan, namun tidak separah masa pandemi COVID-19. Meskipun demikian, permintaan perjalanan udara di Asia justru mengalami peningkatan yang signifikan.
CEO Capital A, induk dari maskapai AirAsia, Tony Fernandes, menyatakan bahwa meskipun operasional penerbangan menghadapi tekanan, aktivitas masih berjalan dan permintaan tetap tinggi. Pernyataan tersebut disampaikannya dalam sebuah paparan, seperti dilansir dari Medcom.
Peningkatan permintaan perjalanan udara di Asia dipicu oleh perubahan preferensi wisatawan. Banyak pelancong kini lebih memilih untuk bepergian di dalam kawasan Asia, ketimbang destinasi yang lebih jauh seperti Eropa atau Amerika.
Di sisi lain, kapasitas penerbangan global masih terbatas. Beberapa maskapai besar Timur Tengah, termasuk Emirates, Qatar Airways, dan Etihad Airways, dilaporkan telah mengurangi operasinya secara signifikan.
Kondisi ini diperkirakan menyebabkan pengurangan sekitar 15–20% dari total kapasitas kursi penerbangan global. Hal tersebut pada akhirnya memicu kenaikan harga tiket di berbagai rute. Tony Fernandes mengakui bahwa ia sendiri sempat kesulitan mendapatkan kursi saat kembali dari Vietnam, menunjukkan tingginya permintaan.
Strategi AirAsia Hadapi Kenaikan Biaya
Dengan permintaan yang kuat dan kenaikan tekanan biaya operasional, Tony Fernandes mengakui bahwa kenaikan harga tiket pesawat tidak bisa dihindari. Menurutnya, maskapai yang menyatakan tidak menaikkan tarif adalah klaim yang tidak benar.
Meskipun demikian, AirAsia berupaya memastikan bahwa kenaikan harga tiket mereka tetap lebih rendah dibandingkan dengan maskapai lain. Strategi ini merupakan bagian dari upaya AirAsia untuk mempertahankan posisinya sebagai maskapai berbiaya rendah.
Tiga Pilar Utama
AirAsia mengandalkan tiga strategi utama untuk menghadapi situasi ini. Pertama, melakukan penyesuaian tarif secara terukur guna menyeimbangkan kenaikan biaya operasional. Kedua, meningkatkan efisiensi operasional dengan memangkas biaya di seluruh lini bisnis.
Langkah ini mencakup pemanfaatan ekosistem internal untuk mencapai efisiensi yang lebih besar. Ketiga, memperkuat sumber pendapatan tambahan. Ini dilakukan melalui platform digital seperti AirAsia MOVE serta kerja sama dengan berbagai agen perjalanan daring (OTA).
Selain itu, AirAsia juga menghadirkan berbagai program promosi, seperti penawaran beli satu gratis satu. Program ini bertujuan untuk menjaga daya tarik bagi konsumen tanpa meningkatkan beban operasional secara signifikan.
Fernandes juga menekankan bahwa tekanan yang dihadapi industri penerbangan tidak bisa ditanggung sendiri oleh maskapai. Ia mengimbau semua pemangku kepentingan, mulai dari perusahaan energi hingga pengelola bandara dan rantai pasok lainnya, untuk turut berperan.
Menurutnya, jika tujuan menjaga harga tetap terjangkau tercapai, ini harus menjadi tanggung jawab bersama. Ia menambahkan bahwa beban tersebut tidak bisa hanya dibebankan kepada maskapai saja.
Di tengah ketidakpastian global, AirAsia melihat peluang strategis bagi kawasan Asia Tenggara. Fernandes menilai kondisi saat ini dapat menjadi momentum bagi ASEAN untuk memperkuat posisinya sebagai pusat penerbangan global. Ia juga mencatat adanya dinamika industri, di mana maskapai kini lebih terbuka untuk berkolaborasi dibandingkan sebelumnya. AirAsia optimistis dapat keluar dari situasi ini dengan kondisi yang lebih kuat, sekaligus memanfaatkan momentum untuk meningkatkan keandalan operasional, termasuk perawatan armada dan ketepatan waktu penerbangan.