Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang SD dan SMP dipastikan lebih inklusif. Pemerintah menyiapkan teknologi khusus agar murid berkebutuhan khusus tetap bisa mengikuti TKA secara mandiri, adil, dan setara dengan peserta lainnya. Langkah ini diambil untuk memastikan tidak ada peserta didik yang tertinggal hanya karena keterbatasan fisik.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menegaskan seluruh murid kelas akhir SD dan SMP berhak mendaftar dan mengikuti TKA, termasuk murid disabilitas. Proses pendaftaran hingga pelaksanaan tes dirancang agar ramah akses, terutama menjelang fase simulasi tka yang menjadi bagian penting dalam persiapan peserta.
Sekretaris Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen, Muhammad Yusro, menyatakan bahwa syarat utama mengikuti TKA tetap sama untuk semua murid. Peserta harus berada di kelas akhir, yakni kelas 6 SD atau kelas 9 SMP, serta memiliki Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) yang valid. Ketentuan ini juga berlaku bagi murid berkebutuhan khusus.
Menurut Yusro, pemerintah memberi ruang seluas-luasnya bagi murid disabilitas untuk ikut TKA selama tidak memiliki hambatan intelektual. Artinya, keterbatasan fisik seperti gangguan penglihatan tidak menjadi penghalang untuk mengikuti asesmen nasional tersebut.
“Kami memberikan kesempatan kepada murid berkebutuhan khusus untuk dapat mengikuti TKA selama tidak memiliki hambatan intelektual,” ujar Yusro dalam keterangannya di Jakarta.
Pendekatan ini menegaskan arah kebijakan pendidikan nasional yang semakin inklusif. TKA tidak lagi dipandang sebagai seleksi semata, tetapi sebagai alat pemetaan kemampuan akademik yang harus bisa diakses oleh semua murid tanpa diskriminasi.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan dan Fasilitasi Pelaksanaan Asesmen Kemendikdasmen, Handaru Catu Bagus, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan fasilitas teknis sesuai kebutuhan masing-masing murid disabilitas. Fokus utama saat ini diarahkan pada murid dengan ketunaan netra, meski dukungan juga disesuaikan untuk jenis kebutuhan khusus lainnya.
Untuk murid tunanetra, Kemendikdasmen menyiapkan teknologi screen reader atau pembaca layar yang terintegrasi langsung dalam aplikasi soal TKA. Dengan fitur ini, soal akan dibacakan secara otomatis sehingga murid dapat mengerjakan tes tanpa harus didampingi orang lain.
Selain itu, desain soal juga disesuaikan. Soal yang diberikan kepada murid tunanetra tidak mengandalkan gambar atau visual kompleks. Teks dibuat lebih ringkas dan jelas agar mudah dipahami melalui pembacaan audio.
“Terutama yang netra, kami siapkan soal yang tidak menggunakan gambar dan teksnya disesuaikan. Murid juga bisa menggunakan screen reader,” kata Handaru.
Keberadaan screen reader ini dinilai krusial karena memberi ruang kemandirian bagi murid disabilitas. Mereka tidak perlu lagi bantuan pendamping selama tes berlangsung. Dengan begitu, konsentrasi murid bisa sepenuhnya tercurah pada soal, bukan pada proses teknis pengerjaan.
“Screen reader nanti yang akan membacakan soal. Murid tunanetra bisa langsung mengerjakan sendiri tanpa bantuan dari pihak lain,” ujar Handaru.
Kemandirian ini juga sejalan dengan prinsip keadilan dalam asesmen. Setiap murid dinilai berdasarkan kemampuan akademiknya, bukan berdasarkan bantuan yang diterima selama tes.
Dalam rangka memastikan kesiapan teknis dan mental peserta, Kemendikdasmen juga menyiapkan tahapan simulasi sebelum pelaksanaan TKA resmi. Tahap simulasi tka menjadi momen penting bagi murid dan sekolah untuk memahami alur ujian, sistem aplikasi, serta kesiapan perangkat yang digunakan.
Berikut jadwal lengkap pelaksanaan TKA jenjang SD dan SMP yang telah diumumkan pemerintah:
-
Pendaftaran TKA SD dan SMP: 19 Januari – 28 Februari 2026
-
Simulasi TKA SMP: 23 Februari – 1 Maret 2026
-
Simulasi TKA SD: 2 – 8 Maret 2026
-
Gladi Bersih TKA SD dan SMP: 9 – 17 Maret 2026
-
Pelaksanaan TKA SMP: 6 – 16 April 2026
-
Pelaksanaan TKA SD: 20 – 30 April 2026
Tahap simulasi dan gladi bersih tidak sekadar formalitas. Bagi murid berkebutuhan khusus, fase ini menjadi ajang penting untuk memastikan teknologi pendukung seperti screen reader berfungsi dengan baik. Sekolah juga dapat melakukan penyesuaian teknis bila ditemukan kendala.
Langkah Kemendikdasmen ini mendapat perhatian luas karena menunjukkan keseriusan negara dalam membangun sistem pendidikan yang inklusif dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. TKA tidak lagi hanya soal penilaian akademik, tetapi juga cerminan komitmen terhadap hak pendidikan bagi semua anak.
Ke depan, pemerintah membuka peluang pengembangan teknologi asesmen yang lebih beragam. Tidak menutup kemungkinan fasilitas serupa akan diperluas untuk jenis kebutuhan khusus lainnya, seiring evaluasi pelaksanaan TKA tahun ini.
Dengan persiapan yang matang, dukungan teknologi yang tepat, serta tahapan simulasi yang jelas, pelaksanaan TKA 2026 diharapkan berjalan lancar. Murid berkebutuhan khusus pun mendapat ruang yang sama untuk menunjukkan kemampuan akademiknya secara mandiri dan bermartabat.