Sektor logistik dan rantai pasok Indonesia didorong untuk mengoptimalkan integrasi transportasi multimoda guna memacu pertumbuhan ekonomi nasional pada Rabu, 6 Mei 2026. Langkah ini dinilai mendesak mengingat efisiensi logistik domestik saat ini masih tertahan di peringkat keenam pada tingkat regional ASEAN.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia sendiri tercatat mencapai angka 5,61 persen pada kuartal I 2026 sebagaimana dilansir dari Medcom. Namun, pencapaian tersebut masih menyisakan ruang perbaikan besar pada efisiensi distribusi barang yang selama ini sangat bergantung pada jalur darat.
Ketua Dewan Pembina Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Yukki Nugrahawan Hanafi, menjelaskan bahwa pendekatan peningkatan efisiensi harus memanfaatkan posisi strategis geografis Indonesia. Menurutnya, fokus utama tidak boleh hanya terbatas pada pembangunan infrastruktur fisik semata.
"Sebagai negara kepulauan, Indonesia perlu fokus memperhatikan posisi geografisnya yang strategis dalam jalur perdagangan dunia. Hal ini penting agar pendekatan logistik yang diambil juga berkepentingan untuk mengintegrasikan Indonesia dalam arus perdagangan dan rantai pasok global," kata Yukki Nugrahawan Hanafi, Senior Vice President FIATA.
Data menunjukkan bahwa sekitar 90 persen pergerakan logistik nasional masih didominasi oleh moda transportasi darat. Sementara itu, kontribusi transportasi laut hanya menyentuh angka 9 persen dan transportasi udara berada di level 1 persen dari total pergerakan barang.
Dominasi angkutan darat tersebut memicu kenaikan beban biaya akibat berbagai hambatan teknis. Kendala utama mencakup kualitas jalan yang belum terstandarisasi, kemacetan akses pelabuhan yang meningkatkan konsumsi bahan bakar, hingga belum terintegrasinya pelabuhan dengan wilayah hinterland.
Yukki menambahkan bahwa Indonesia seringkali hanya menjadi titik transit tanpa mendapatkan nilai tambah ekonomi yang maksimal. Kapal internasional sering melintasi wilayah Indonesia, namun proses konsolidasi dan distribusi justru lebih banyak dilakukan di negara tetangga yang memiliki sistem lebih siap.
Sebagai solusi jangka pendek, penyederhanaan perizinan antar-lembaga dan percepatan inspeksi di bea cukai harus segera dilakukan. Sementara untuk jangka panjang, penambahan jalur kereta barang dan digitalisasi berbasis kecerdasan buatan (AI) menjadi syarat mutlak untuk memperkuat konektivitas port-hinterland.