Analis ANZ Prediksi Harga Emas Tembus US$ 5.800 di 2026, Apa Pemicunya?

Pasar komoditas global kembali diguncang oleh proyeksi optimistis dari salah satu lembaga keuangan terbesar di kawasan Pasifik. Australia and New Zealand Banking Group (ANZ) baru saja merilis laporan terbaru yang mengindikasikan bahwa reli panjang logam mulia belum akan berakhir dalam waktu dekat. Sebaliknya, analis mereka justru melihat adanya ruang pertumbuhan yang sangat lebar bagi emas untuk mencetak rekor tertinggi baru sepanjang sejarah.

Bagi para investor yang sempat khawatir akan adanya koreksi tajam setelah emas mendekati level US$ 5.600 bulan lalu, laporan ini membawa angin segar sekaligus perspektif baru. ANZ secara resmi menaikkan target harga emas mereka ke angka yang cukup fantastis, yakni US$ 5.800 per ons troi pada kuartal II-2026. Angka ini naik signifikan dari proyeksi sebelumnya yang berada di level US$ 5.400, menandakan adanya pergeseran fundamental yang kuat di pasar global.

Kenaikan target ini bukan tanpa alasan fundamental yang kuat. Di tengah pergerakan harga yang saat ini cenderung stabil di kisaran US$ 5.000 per ons troi, ANZ melihat adanya kombinasi antara kebijakan moneter Amerika Serikat, ketegangan geopolitik, hingga perubahan struktural dalam sistem keuangan dunia. Fenomena ini membuat emas tidak lagi hanya dipandang sebagai alat spekulasi, melainkan instrumen wajib untuk menjaga nilai kekayaan di tengah ketidakpastian ekonomi yang kian meningkat.

Proyeksi ANZ: Mengapa Target Harga Emas Direvisi Naik?

Dikutip dari investor.id 17/2/26, analis komoditas ANZ menjelaskan bahwa meskipun pasar sempat mengalami volatilitas, tren bullish emas masih jauh dari kata usai. Mereka menilai pasar saat ini sedang berada dalam fase konsolidasi sebelum melakukan lompatan besar berikutnya. “Meski volatilitas baru-baru ini memunculkan pertanyaan apakah harga emas telah mencapai puncak, kami melihat reli ini belum cukup matang untuk berbalik arah dalam waktu dekat,” tulis laporan resmi ANZ.

Dampak Kebijakan Suku Bunga The Fed

Faktor utama yang menjadi motor penggerak harga adalah arah kebijakan moneter Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed). ANZ memperkirakan The Fed akan mengambil langkah proaktif dengan memangkas suku bunga sebanyak dua kali pada tahun 2026 ini.

  • Pemangkasan Pertama: Diprediksi terjadi pada Maret sebesar 25 basis poin.

  • Pemangkasan Kedua: Diprediksi menyusul pada Juni sebesar 25 basis poin.

Secara teoritis, penurunan suku bunga akan menekan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Ketika imbal hasil aset berbunga turun, daya tarik emas yang tidak memberikan bunga (non-yielding asset) justru meningkat secara otomatis karena biaya peluang untuk memegangnya menjadi lebih rendah.

Geopolitik dan Kebijakan Perdagangan Era Trump

Selain faktor moneter, variabel politik global memegang peranan krusial. Kebijakan perdagangan yang agresif, termasuk penggunaan tarif yang kembali dipopulerkan oleh Presiden Donald Trump, telah menciptakan risiko sistemik pada pertumbuhan ekonomi global. Dalam situasi di mana perang dagang membayangi, investor cenderung mengalihkan modal mereka ke aset aman (safe haven).

Emas Sebagai Aset Transisi Global

ANZ menyoroti sebuah pergeseran menarik di mana obligasi pemerintah AS mulai kehilangan statusnya sebagai “aset bebas risiko” mutlak. Hal ini disebabkan oleh:

  1. Lonjakan Utang AS: Beban utang yang terus membengkak memicu kekhawatiran jangka panjang.

  2. Independensi Bank Sentral: Adanya tekanan politik terhadap kebijakan moneter.

  3. Risiko Geopolitik: Ketegangan antarnegara besar yang mengancam stabilitas sistem pembayaran global.

Dalam konteks ini, emas berfungsi sebagai aset transisi yang memberikan stabilitas dan diversifikasi ketika aset tradisional seperti saham dan obligasi berada di bawah tekanan besar.

Dominasi Permintaan dari Sektor ETF dan Pasar Asia

Satu hal yang akan membedakan reli tahun 2026 dengan tahun-tahun sebelumnya adalah ledakan minat pada Exchange-Traded Funds (ETF) berbasis emas. ANZ memperkirakan total kepemilikan ETF emas global bisa melampaui angka 4.800 ton pada tahun ini.

Pergeseran Portofolio Global

Saat ini, aset ETF emas baru mencakup kurang dari 3% dari total portofolio saham dan obligasi global. Analis ANZ berpendapat bahwa pergeseran kecil saja pada alokasi aset institusi besar dari saham ke emas akan menciptakan tekanan beli yang masif.

Selain itu, permintaan fisik tidak lagi didominasi oleh pasar Barat. Negara-negara berkembang seperti China dan India terus meningkatkan porsi kepemilikan emas mereka, baik melalui bank sentral maupun investasi ritel. Hal ini memberikan bantalan harga yang kuat sehingga emas sulit untuk jatuh terlalu dalam.

Bagaimana Nasib Perak di Tengah Reli Emas?

Meskipun sangat optimistis terhadap emas, ANZ memberikan catatan sedikit berbeda untuk perak. Perak memang diprediksi akan ikut terkerek naik mengikuti jejak emas, namun volatilitasnya diperkirakan akan jauh lebih tinggi.

Penyebab utamanya adalah melambatnya permintaan di sektor industri yang menjadi salah satu penopang utama perak. Oleh karena itu, bagi investor yang mencari stabilitas dan pertumbuhan yang lebih terukur, emas tetap menjadi pilihan utama dibandingkan perak dalam jangka pendek hingga menengah.

Dengan target US$ 5.800 per ons troi, emas kini bersiap menghadapi babak baru dalam sejarah keuangan modern, di mana ia kembali menegaskan posisinya sebagai raja dari segala aset pelindung nilai.

Recommended