Prof. Dr. Abdur Rozaki memandang Indonesia sebagai sebuah proses yang tak pernah berhenti, bukan sekadar bangunan yang telah jadi. Pandangan ini disampaikannya dalam pidato pengukuhan sebagai Guru Besar di UIN Sunan Kalijaga pada Rabu, 8 April 2026, sebagaimana dilansir dari Medcom.
Ia menggambarkan bangsa ini sebagai ruang yang terus-menerus dirakit dari perjumpaan beragam identitas, agama, dan etnisitas. Indonesia, menurutnya, telah lahir dari serangkaian kompromi dan negosiasi panjang sejak awal pembentukannya.
Rozaki menjelaskan bahwa kedatangan Islam dengan nilai-nilai universalnya tidak menghapus identitas lokal. Sebaliknya, Islam berbaur dan turut membentuk wajah baru kebudayaan Nusantara yang kaya. Proses ini menunjukkan kemampuan Indonesia untuk hidup dalam perbedaan tanpa kehilangan jati diri.
“Indonesia adalah proses menjadi,” ujar Rozaki, yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan UIN Sunan Kalijaga. Refleksi mendalam ini menegaskan bahwa keberagaman bukan sekadar realitas, melainkan energi esensial yang menggerakkan bangsa.
Di tengah dinamika zaman, Rozaki mengingatkan bahwa perjalanan ini tidak selalu berjalan mulus. Tantangan akan selalu muncul, khususnya ketika identitas dipersempit dan memicu sekat-sekat antar masyarakat. Oleh karena itu, bagi Rozaki, merawat Indonesia berarti senantiasa menjaga agar ruang perjumpaan identitas tetap hidup dan terbuka.
UIN Sunan Kalijaga secara resmi mengukuhkan enam guru besar dalam Sidang Senat Terbuka yang berlangsung di Gedung Multipurpose pada hari yang sama. Para akademisi yang dikukuhkan ini berasal dari berbagai disiplin ilmu.
Mereka adalah Prof. Dr. Suwadi dan Prof. Dr. Zainal Arifin dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, yang fokus pada Evaluasi Pendidikan dan Kepemimpinan Pendidikan Islam. Selanjutnya, Prof. Dr. Lindra Darnela dan Prof. Dr. Muhammad Nur dari Fakultas Syariah dan Hukum, yang ahli dalam Hukum Internasional serta Politik dan Tata Negara Islam.
Prof. Dr. Abdur Rozaki sendiri dikukuhkan dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi dengan bidang Ilmu Islam dan Etnisitas. Terakhir, Prof. Dr. Muhammad Wakhid Musthofa dari Fakultas Sains dan Teknologi dalam bidang Matematika Terapan.
Rektor UIN Sunan Kalijaga, Noorhaidi Hasan, menyampaikan bahwa pengukuhan para guru besar ini merupakan pencapaian penting dalam perjalanan akademik. Namun, ia juga menegaskan bahwa gelar tersebut bukanlah tujuan akhir.
Menurut Noorhaidi, di balik gelar guru besar terdapat tanggung jawab besar untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan memberikan kontribusi yang berarti bagi bangsa, negara, serta peradaban manusia. Ia juga menekankan pentingnya bagi para guru besar untuk menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara optimal.
Kewajiban tersebut mencakup menghasilkan publikasi ilmiah, menulis buku, serta aktif menyebarkan gagasan-gagasan di berbagai ruang akademik. Guru besar diharapkan mampu menjadi motor penggerak pengembangan keilmuan sesuai dengan bidang masing-masing.