Ancaman El Nino

Fenomena El Nino

Fenomena El Nino "Godzilla" diperkirakan akan memicu musim kemarau yang lebih panjang dan lebih awal pada tahun 2026. Situasi ini berpotensi menekan produksi pangan nasional secara signifikan dan akan menjadi ujian berat bagi sistem pertanian Indonesia, demikian dilansir dari Medcom.

Istilah El Nino "Godzilla" merujuk pada kategori super El Nino dengan intensitas yang sangat kuat, jauh di atas kejadian El Nino pada umumnya. Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, menjelaskan bahwa super El Nino terjadi ketika suhu muka laut di Pasifik naik sekitar 2,5 derajat Celcius atau lebih, dan biasanya berlangsung selama rata-rata satu tahunan.

El Nino "Godzilla" pernah melanda bumi pada tahun 1982, 1997, dan 2015, menyebabkan dampak global yang parah seperti kekeringan ekstrem dan kebakaran hutan. Namun, menurut Sonni, kondisi saat ini masih berada pada kategori lemah hingga moderat.

Sonni Setiawan juga mengaitkan potensi super El Nino ini dengan aktivitas bintik hitam atau sunspot pada matahari. Berdasarkan data sunspot dan curah hujan dari 72 stasiun di Pulau Jawa selama 35 tahun, ia menemukan bahwa intensitas El Nino dapat diperkuat oleh sunspot. Data sunspot dan Nino 3.4 menunjukkan bahwa El Nino "Godzilla" selalu terjadi setelah sunspot mencapai puncaknya. Oleh karena itu, sunspot maksimum pada tahun 2025 berpotensi diikuti oleh El Nino kuat di tahun 2026.

Mendesaknya Pembenahan Sistem Pertanian Nasional

Menanggapi ancaman ini, Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) melihatnya sebagai momentum krusial untuk mempercepat pembenahan sistem pertanian nasional. Rahmad Supriyanto, Peneliti dan Analis Kebijakan Senior CIPS, menyatakan bahwa pendekatan lama yang kurang ramah lingkungan dalam kebijakan pertanian harus diubah menjadi model yang lebih adaptif terhadap krisis iklim.

Sistem pertanian konvensional dinilai membuat Indonesia semakin rentan terhadap guncangan iklim seperti El Nino "Godzilla". Karena itu, transformasi menuju sistem pertanian yang tangguh terhadap perubahan iklim sangat dibutuhkan untuk menjaga produksi pangan dan kesejahteraan petani.

Pendekatan Pertanian Adaptif dan Modernisasi

Pertanian adaptif menitikberatkan pada sistem produksi yang responsif terhadap perubahan iklim. Beberapa contohnya adalah penggunaan benih tahan kekeringan serta praktik konservasi tanah dan air. Pendekatan ini sangat penting untuk menjaga produktivitas pertanian di tengah ancaman kekeringan.

Urgensi ini semakin terlihat nyata di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan sebagian wilayah akan mengalami musim kemarau lebih panjang dan lebih awal, didukung oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait potensi El Nino "Godzilla" yang intensif di beberapa daerah.

Ketika El Nino melanda pada tahun 2023, sektor pertanian menjadi salah satu yang paling terdampak. Produksi beras nasional mengalami penurunan lebih dari 0,44 juta ton, dan sekitar 23.451 hektare lahan sawah mengalami kekeringan. Di tingkat petani, tantangan juga dirasakan, seperti keluhan tentang penurunan kualitas pupuk subsidi yang memaksa petani menggunakan pupuk sintetis berlebihan, justru meningkatkan emisi dan merusak lingkungan.

Studi CIPS (2021) secara global menunjukkan bahwa penggunaan pupuk sintetis seperti urea dan NPK adalah kontributor utama emisi gas rumah kaca. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) juga mencatat peningkatan emisi pupuk sintetis sejak 1990, menjadikannya salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di sektor pertanian.

Rahmad Supriyanto menambahkan bahwa praktik pembukaan lahan baru yang masih diterapkan pemerintah tidak memberikan dampak signifikan terhadap produktivitas pertanian, bahkan memicu kerusakan lingkungan yang lebih besar.

Strategi Penguatan Ketahanan Iklim

CIPS menyarankan agar sistem pertanian fokus pada penguatan ketahanan terhadap krisis iklim, salah satunya melalui optimalisasi lahan dengan intensifikasi pertanian ramah lingkungan. Riset CIPS (2025) menunjukkan bahwa intensifikasi pada 7,4 juta hektare lahan sawah berpotensi menambah produksi hingga 11,84 juta ton beras, melebihi target program berbasis ekspansi lahan seperti Food Estate yang sebesar 5 juta ton per tahun.

Modernisasi pertanian juga harus dipercepat melalui praktik pertanian cerdas iklim (Climate Smart Agriculture), pertanian presisi berbasis Internet of Things (IoT), serta penggunaan varietas yang tahan kekeringan. Rahmad menekankan pentingnya responsifitas sistem pertanian Indonesia terhadap krisis iklim, dengan pemerintah mendorong transformasi ini melalui akses teknologi dan inovasi, serta insentif bagi praktik pertanian ramah iklim.

Recommended